Tampilkan postingan dengan label Stensil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stensil. Tampilkan semua postingan

    Sekitar 20 tahun lalu, saat usiaku masih di belasan tahun dan menggunakan seragam merah putih, masih kuingat apa saja pembahasan yang bisa aku obrolkan dengan teman-teman sebayaku. Soal PR sekolah, nilai ulangan naik turun, nanti jam istirahat mau jajan apa, kenapa si A gak mau duduk sebangku sama aku atau si B yang katanya suka dengan si C, dan bla bla bla hal remeh temeh lainnya, seakan dunia ya cukup hanya di kehidupan sekolah dan teman adalah segalanya.

    Lanjut saat memasuki seragam SMP, putih biru. Belum terlalu jauh pembahasan yang diobrolkan. Hanya saja, sudah mulai bertambah dengan cinta monyet yang menyenangkan ketika menyukai teman di kelas yang sama. Atau, melihat kaka kelas yang "ko, keren banget sih apalagi pas main basket!" Ya, dulu jaman SMP, rasanya tim basket sekolah itu udah paling populer dan pasti pemainnya cool banget.

    Masa putih abu-abu mungkin disebut masa paling gamang. Entah bagi sebagian orang yang lain, tapi bagiku begitu. Masa penentuan di saat rasanya menjadi  bagian organisasi itu penting sekali, dan pelajaran yang gurunya gak asik itu membosankan. Nilai naik turun malah hal yang biasa, apalagi kalau ternyata yang remedial bisa sampai seangkatan. Wow, mengesankan! Tapi mulai berubah menjadi kelabu saat ternyata di akhir semua terlihat sempurna bagi yang lain, dan menyedihkan bagiku yang tidak diterima di PTN manapun karena kupikir saat kelas 12, cukup hanya persiapan untuk UN saja. Ternyata aku kalah start, di saat yang lain sudah bimbel sana sini untuk persiapan masuk PTN favoritnya. Mungkin masa ini menjadi titik balik pertama dalam hidup, bahwa berpikir tidak lagi sama hanya cukup tentang sekolah dan rumah saja, namun estafet menuju masa depan.

    Secara sadar aku mulai mencari teman yang sefrekuensi, lebih tepatnya senasib. Pernah berpikir untuk melamar kerja di pabrik namun akhirnya aku ditampar oleh kenyataan, HRD menolak karena aku lulusan SMA favorit yang seharusnya saat itu sedang duduk di bangku kuliah, bukan menghadapi mesin besar yang ada di belakang ruang interview saat itu. Akhirnya pola pikir kembali disadarkan, bahwa tempatku memang bukan disana. Aku harus lanjut kuliah walaupun harus menunggu kesempatan di tahun depan.

    Banyak bertemu orang dengan berbagai latar belakang, membuatku sadar bahwa dunia memang luas. Pikiranku tidak bisa hanya cukup di zona nyaman yang aku ciptakan sendiri, karena hal yang membuat tidak nyaman yang justru membuka peluang. 

    Manusia berevolusi melalui pikirannya, cara pandang dan juga bagaimana ia menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Walau pembicaraan hangat dengan teman dekat tetap kita butuhkan untuk menjaga kewarasan dan jati diri bahwa "gue masih baik-baik aja dan gw tetap orang yang sama". Hanya untuk meyakinkan bahwa kita tidak benar-benar di luar kendali karena sengatan evolusi.

    Memasuki masa kuliah adalah masa paling settle sepertinya dari fase hidup. Bukan soal jurusan kuliah yang sesuai harapan, namun akhirnya hidup menjadi lebih terarah karena kita akan fokus di masa depan dalam bidang apa. Bukan soal nanti setelah kuliah kerja dimana, namun setelah kuliah punya skill apa untuk pegangan utama. Bertemu dengan teman-teman sevisi dan cara pandang yang sama menjadi bonus bahwa kita tidak sendirian. Membangun idealisme tentang menjadi masyarakat dan pengabdian pada negara seperti hal yang sangat digaungkan dan kita mengaminkan.

    Hari ini saat aku duduk sendirian makan di KFC, ternyata sendiri malah membuatku mendapatkan ide untuk menulis tentang hal ini. Dua gadis remaja yang kutaksir mereka masih kuliah sedang asyik berbincang di seberang kursiku, mungkin tentang kehidupan pribadi masing-masing atau lain sebagainya yang membuat mereka terlihat akrab satu sama lain. Ya, aku juga pernah ada di fase itu, rasanya pembicaraan tentang pencarian jodoh adalah hal paling favorit, ada juga cita-cita naik gunung atau liburan ke luar kota bersama, dan yang paling seru adalah hangout bareng di akhir pekan. Semua hal yang sepertinya baru dan rasa ingin mencobanya sangat tinggi karena merasa sudah mendapat predikat baru yaitu "mahasiswa" yang artinya sudah menjadi orang dewasa yang bebas. Mungkin ini yang menjadi dasar pertimbanganku untuk akhirnya berani ambil keputusan ikut program SM3T, mengajar di pedalaman selama 1 tahun yang bahkan kuingat tanpa memberitahu hal ini kepada kedua orang tuaku hingga sampai waktunya keberangkatan. Hahaha.

    Manusia memiliki masa evolusi yang jelas pasti berbeda. Aku sudah berevolusi selama 31 tahun sampai hari ini, dengan statusku saat ini sudah menikah, memiliki anak 1 dan sudah bekerja tetap sebagai PNS guru. Banyak orang berpikir bahwa hidup yang satu terlihat mulus jalannya dibandingkan yang lainnya. Pemikiran hari ini saat kutemui di kolom komentar media sosial, begitu banyak manusia yang memamerkan hidupnya yang baik-baik saja, sebetulnya tidak menjamin bahwa semulus itu perjalanan hidup mereka sampai di tahap tersebut. Semua pasti mengalami benturan evolusi yang berbeda-beda. Kita hari ini adalah hasil evolusi pemikiran apa yang sudah kita pilih untuk dilalui. Namun jelas, secara fitrah manusia tidak akan menunjukkan sisi lemahnya karena ia tidak akan mau untuk dikasihani. Lalu evolusi apa yang bisa dilalui oleh orang dengan usia yang sama denganku hari ini?

    Usia di masa krisis seperti saat ini adalah gerbang utama dimana kita sudah sadar bahwa jalan hidup yang akan ditempuh satu dan lainnya jelas pasti berbeda. Ada yang memutuskan menikah, ada yang ingin menikah namun belum menemukan jodohnya, dan ada pula yang secara mantap tidak akan menikah. Yang menikah belum tentu mau punya anak, dan yang sudah punya anak 1 bisa jadi sedang merencanakan menambah lagi momongan atau tidak. Yang sudah bekerja sedang banyak berpikir bagaimana menyelesaiakan pekerjaan di setiap harinya dengan baik, bahkan ada pula yang memutuskan untuk resign dan beralih pekerjaan atau usaha. Semua pilihan begitu terhampar jelas, dan isi pembicaraan kita juga akan jelas mengikuti arah mana yang akan kita pilih. Berdiskusi dengan banyak orang menjadi hal yang rumit, sehingga kita hanya butuh diri sendiri untuk bertahan. Ya, mungkin ini asalan utama kenapa banyak yang berpikir menjadi dewasa adalah hal yang paling melelahkan. Jadi, sudah sejauh apa evolusi hidupmu berjalan sampai hari ini?

Sebagian orang kehilangan, di sisi lain banyak yang untung dadakan. Hidup tidak sebercanda itu, kawan.

Aku sudah tidak tertarik menonton televisi sejak 4 tahun lalu. Entah karena sudah teralihkan dengan banyaknya suguhan entertainment lainnya yang kurasa jauh lebih menghibur dari sekedar berita kriminal pengulangan dan itu jenuh, atau rentetan judul sinetron yang sangat tertebak alurnya. Uhh basi!

Berita tak biasa yang akhirnya aku dengar adalah Covid19. Ya tentu bukan dari televisi aku menerima beritanya, melainkan mulut tetangga. Maret 2020 adalah posisiku masih tinggal di Desa Tugu dan kebiasaanku ngumpul di warung tetangga sambil mengasuh anak hingga sore suamiku kembali dari kantornya.

Benakku saat itu tentang virus tersebut, meremehkan. Aku berdiskusi ringan dengan suami yang notabene kerja di kantor pengembangan dan penelitian milik pemerintah. Jelas dia lebih update soal apapun yang berhubungan dengan keilmiahan. Tapi lucunya, diskusi kami malah ngelantur ke hal lain di luar nalar. "Gimana kalau pandemi ini bakal kayak zombie? dan kayaknya kita harus segera mengumpulkan persediaan makanan kalau-kalau keadaan makin genting!"

Tapi kurasa yang berpikir konyol semacam itu bukan hanya kami saja. Nyatanya, mendadak panic buying melanda seluruh dunia. Aku mulai aktif menyaksikan berita di televisi untuk melihat perkembangan dari wabah ini. Dan tagline berita yang saat itu aku baca, "Seorang lansia di Australia kehabisan tisue toilet setelah berjalan jauh dari rumahnya menuju toserba." What?? Segila itu ternyata manusia ketika dihadapkan dengan ancaman kematian. Tetapi aku sama saja, perasaan takut memang wajar ketika kita bingung harus bagaimana menghadapinya.

Nyatanya, wabah yang terlihat mengerikan ini, dengan berita kematian dimana-mana, sulitnya mendapat pasokan bahan pangan di beberapa negara, atau sanak keluarga yang terpisah jauh lintas dunia tak bisa kembali, masih ada yang jauh lebih mengerikan dari itu semua. KORUPSI!

Memang bukan hal baru di negara ini para tikus berdasi seperti berlomba-lomba memperkaya diri lewat jabatannya. Tapi di tengah pandemi masih mengambil celah untuk korupsi?! Sakit jiwa ini sih pasti!

Tidak cukup hanya korupsi untuk memenuhi rekeningnya pribadi, semua fasilitas, pelayanan kesehatan, akses keramaian hajatan saat PPKM, bahkan liburan gratis melihat pameran fashion di luar negeri seolah hidupnya paling raja. Tahan, tahan jangan keluar kata kasar lagi!

Kulihat berita di Instagram Tempodotco menjadi sering lewat di beranda karena aku rutin membacanya. Lebih menarik membaca komenan netizen yang banyaknya menghujat pemerintah, senggol sedikit untuk PNS yang dianggap sama saja makan gaji buta di saat mereka beradu nasib menceritakan PHK di tempat kerjanya dan dimana-mana. Hatiku sakit, tapi memang tidak bisa merasakan sakitnya berada di posisi mereka yang harus jungkir balik dengan keterbatasan.

Tetap rasanya ingin menyentil balik. 

Saya juga jengah ko Mba Mas, mau itu dengan pandemi yang gak beres-beres atau dengan pemerintah yang terlihat bermain-main dengan rakyatnya. Tapi bukan berarti yang hilang dari dirimu, lantas menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam agar dirimu puas. Kita sama-sama rakyat. Daripada saling menyudutkan dan tidak membawa perubahan, lebih baik saling merangkul, bukan? 

 

Malam ini adalah penghujung tahun 2021. Resolusi yang sama dengan tahun sebelumnya, bukan lagi hanya soal pencapaian diri, "semoga" kali ini adalah untuk warga di bumi. Aku, kamu dan kita yang masih bernapas dan membaca blog ini. Harapan belum mati. Sekali lagi angkat tangan menengadah semoga Tuhan membalikan tangannya lagi untuk 2022 yang lebih BERSIH dan lebih baik lagi.

03 Okt 2016
11:17 waktu Bandung


Perpisahan tanpa penjelasan itu lebih menyakitkan dari apapun.

Kita berada di kota yang sama tapi seperti sulit untuk menjangkau satu sama lain.
Langkahmu atau langkahku yang tertahan?


"Aku akan cari kamu, nanti."

Ini katamu.

Bisakah aku pegang ucapan ini sebagai satu-satunya yang bisa aku yakini sekarang?


Aku tidak suka Bandung.
kau bilang, itu hanya perasaan sesaat karena kita sedang berada di situasi yang tidak menyenangkan saat ini.
Bagaimana aku harus menyukai Bandung?
Kota ini kuanggap sebagai kota yang tepat untuk jatuh cinta.
Tapi menjadi yang paling buruk untuk menciptakan rasa sakit hati.


Setiap detil jalannya, itu adalah kamu.
Setiap tetesan hujannya, itu juga kamu.
Bandung selalu hujan, itu berarti ingatan tentangmu tidak pernah bisa alpa aku sembunyikan.


Entah kenapa, aku merasa kamu hilang.
dan mimpi itu perlahan juga ikut hilang.
untuk terakhir kalinya aku memintamu untuk pulang..
pulanglah ke rumahmu. Aku.
Rasanya seperti mau berteriak sambil lompat-lompat untuk mengatakan "Gue Bebaaaaassss" >.<

Kenapa?
Karena setelah hampir 3 bulan yang terasa seperti 1 tahun akhirnya hari ini datang.
:D
Tiga bulan berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan hati seseorang ternyata menyiksa pada kenyataannya.
Berusaha menjadi apa yang orang lain inginkan hingga keluar dari zona "gue" itu, aaarrgggghhh..

Hei girls, aku tidak akan menyalahkanmu yang hari ini masih berjuang mati-matian demi priamu.
Tapi mungkin, ada baiknya kamu pastikan apakah tujuannya juga hanya satu selama ini yaitu kamu.
Haha, ini bukan omongan sinis dari seseorang yang gagal berjuang dan akhirnya memilih menjadi masiv.
Aku hanya tidak ingin, kamu yang sudah terlalu banyak menguras energi, membuang banyak waktu dan mengabaikan mimpi demi priamu itu harus menelan pil pahit akhirnya saat menerima kenyataan yang berbanding terbalik dari khayalan.
Iya, khayalan..
Jujurlah, kita perempuan memang terlalu pintar bermain perasaan dan sangat ahli merangkai skenario sebuah cerita khayalan yang selalu berujung happy ending.

But, fairy tales don't always have a happy ending, right?

Aku tidak akan mencari sekutu atau memintamu untuk ikut mengutuki dia yang sudah pergi meninggalkanku.
Seperti banyak kisah gagal lainnya, aku hanya pemain yang belum beruntung saat ini untuk menemukan dia yang tepat.
Tapi, bukankah kita tahu bahwa jodoh, rejeki, dan umur kita sudah ada yang mengatur?
Seseorang yang cerdas dan percaya Tuhannya tidak tidur, tidak akan merisaukan masalah ini bukan?
Jadi, aku pun merelakannya tanpa berharap suatu saat dia akan kembali atau menyesal.
Aah..biarkan itu menjadi urusan dia dan hatinya bagaimana nanti.
Yang penting saat ini, aku bahagia. Itu saja :)

Ada satu kutipan yang aku suka dan saat ini cukup menguatkan,

"Being alone is better than being with the wrong person"

Kudoakan, semoga kisahmu lebih beruntung.. :)
Kamu mungkin akan tidak setuju jika kuberitahu bahwa ada yang lebih sakit dari rasanya kehilangan.
Perasaan tiap orang memang relatif, dan ini aku ambil dari sudut pandangku yang sedang merasakan.

Iya, kehilangan itu menyakitkan memang.
Semua orang tidak akan pernah siap jika harus menghadapinya.
Kehilangan di sini mungkin bisa berwujud dalam beberapa bentuk, tapi kali ini aku akan membahas kehilangan dalam bentuk seseorang yang kamu anggap penting dalam hidupmu.

Seseorang yang pernah jatuh cinta dan patah hati sekaligus pasti pernah merasakannya.
Di saat hati dan asa sudah melambung tinggi dan kemudian dihempaskan hingga jungkir balik di tanah itu rasanya seperti kehilangan separuh nyawa.
Dia pergi begitu saja meninggalkan hati yang masih dititipkan padanya.
Kupikir tidak akan pernah ada yang lebih sakit dari itu.
Tapi ternyata, masih ada keadaan yang lebih menyakitkan rasanya.

Diabaikan..

Iya, harus kukatakan diabaikan lebih sakit dari pada kehilangan..
Keadaan dimana kamu tau dia masih milkmu tapi hatinya mungkin sudah bukan untukmu.
Kamu bisa memastikan kabarnya baik-baik saja sebagai kekasihmu, tetapi dia sama sekali tidak tertarik menganggapmu masih kekasihnya.
Kamu bisa mati-matian memberikan perhatian ini itu padanya, dan harus puas dengan tanggapan kosong darinya.
Berharap saat kamu menemukan hatimu sakit saat malam tiba karena merindukannya dan kemudian akan sembuh paginya setelah mendapat pesan singkat "selamat pagi" darinya tapi ternyata tidak ada.
Kamu mencoba menghibur diri dengan selalu mengingatkannya makan dan juga menyemangatinya bekerja hanya demi melihatnya membaca pesanmu dan kemudian membalasnya, ternyata harus menunggu hingga malam tiba untuk kamu mendapatkannya.
Itupun kalau dia tidak lupa.

Sebenarnya aku tidak ingin menyesali keputusan memberikan kesempatan kedua baginya yang sempat membuatku terluka sebelumnya.
Kupikir, setiap manusia berhak mendapat pengampunan dan kesempatan memperbaiki diri.
Ya, aku memberikan padanya kesempatan untuk membuktikan cintanya.
Aku belajar percaya lagi padanya.
Namun ibarat membangun istana pasir,sebelum mencapai puncak ia sudah menghancurkannya kembali.
Sekarang, seperti tidak ada lagi yang tersisa karena perlahan perasaanku padanya mulai terkikis dan menipis.
Mungkin, merelakan dia yang mengabaikanku untuk semakin jauh akan lebih baik untukku dan juga untuk hatiku.
Sekarang, bukan ingin berjalan mundur, aku memilih untuk pergi menjauh.
Iya, kuputuskan kali ini aku yang akan pergi.

Terima kasih sudah pernah membuatku bahagia sekaligus terluka hingga membuatku harus belajar menyembuhkan sendiri sakitnya.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com