Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Sapardi Djoko Damono, 1989
Bandung, 06 Juni 2023 (17:02)
Hari ini kembali diguyur hujan setelah sempat beberapa minggu mendapat serangan panas yang cukup menyengat kota.
Tapi hujan ini tetap patut disyukuri karena setidaknya, aku lebih menyukai bau tanah yang basah dibandingan dengan debu jalanan dan juga gerutu panas saat menunggu di lampu merah.
Dan buatku, hujan di Bulan Juni selalu terasa istimewa, entah hujannya atau rindunya.
Hmm..
.
.
Hening
.
Mencerna kata butuh kemampuan.
.
Membaca sandi butuh keahlian.
.
Mencari jejak pun butuh ada 'jejak' itu sendiri.
.
Menjawab teka teki?
Seperti sedang bermain tebak kata kali ya..
Tapiii..
Aku tahu tidak akan pernah ada jawaban.
Setiap badai, ada masanya ia akan berhenti. Begitu juga dengan yang ada di hati.
Rasanya cukup realistis untuk mengatakan, "Sehebat apapun perasaan di masa lalu, pada akhirnya tidak akan berarti apa-apa saat ini."
"Sehebat apapun godaan saat ini, yang paling utama kita tahu arah kemana kita harus kembali."
Sedalam apa ingatan yang tersimpan di kotak pandora yang bahkan pemiliknya saja tidak bisa menerka?
Anehnya kita bisa mengingat detail suatu peristiwa 7 tahun lalu, tapi bisa lupa apa yang terjadi 3 bulan atau bahkan minggu kemarin.
Tiap sel otak yang dirancang sebegitu kompleksnya, yang pernah kubaca katanya ia bisa menyimpan memori dari jutaan buku yang telah dibaca, tapi ternyata bisa luput dengan kata "lupa".
Ternyata harus ada "kesan" yang melibatkan hati dan rasa untuk bisa menguatkan ingatan, benar?
Jadi aku cukup sebal karena sempat banyak melibatkan itu semua untuk kenangan yang seharusnya tidak menetap lama.
*some text missing*
Jangan ditambahkan lagi, karena semoga sisanya adalah apa yang sudah berhasil aku lupa.
