Terima kasih aku, untuk 32 tahun yg luar biasa ini.
Sudah sejauh ini berdiri dan melangkah membawa beban yang untuk diri sendiri cukup berat, tapi berhasil diangkat, diseret bahkan tak jarang dibawa berlari sambil terseok-seok.
Kita kuat.

Untuk tahun-tahun berikutnya yang semoga masih cukup panjang, aku yakin kita siap.
InsyaAllah..

Biar rasa sedih, diabaikan, dianggap terlalu mandiri, soliter, dan hal lain yg seperti memuji tapi menguji, tidak akan menjatuhkan pun menggoyahkan kita. Aamiin.

Satu hal yang kita yakini, perasaan sepi dan kesendirian ini nantinya akan menjadi hal yang biasa. 
Juga selalu merasa cukup dengan kalimat penguatan untuk diri sendiri "Semoga Allah jaga".


Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

                     Sapardi Djoko Damono, 1989 

Bandung, 06 Juni 2023 (17:02)

Hari ini kembali diguyur hujan setelah sempat beberapa minggu mendapat serangan panas yang cukup menyengat kota.

Tapi hujan ini tetap patut disyukuri karena setidaknya, aku lebih menyukai bau tanah yang basah dibandingan dengan debu jalanan dan juga gerutu panas saat menunggu di lampu merah.

Dan buatku, hujan di Bulan Juni selalu terasa istimewa, entah hujannya atau rindunya.


Semoga tulisanku, tak membuka luka hatimu.
.
Semoga tulisanku, hanya sebatas penghiburan dari rasa penasaran akan masa lalu.
.
Karena saat menulis tentangmu dulu, akupun begitu. Menerjemahkan rasa yang tertinggal yang seharusnya tidak untuk aku simpan.
.
Membiasakan bahwa rasa penasaran tidak selalu harus menemukan jawaban.
.
Hampir berharap, semoga tulisan itu tidak pernah ditemukan. Biar menjadi sebuah catatan saja. Bahwa aku pernah menyimpan rasa itu secara diam-diam.
.
Namun, seperti seorang pencari jejak, kamu berhasil menemukannya. Entah apa yang menuntunmu menemukannya. Ku harap itu tak akan berarti apa-apa bagimu saat ini.
.
Semoga. Akupun begitu.

 Hmm..

.

.

Hening

.

Mencerna kata butuh kemampuan.

.

Membaca sandi butuh keahlian.

.

Mencari jejak pun butuh ada 'jejak' itu sendiri.

.

Menjawab teka teki?

Seperti sedang bermain tebak kata kali ya..

Tapiii..

Aku tahu tidak akan pernah ada jawaban.

Ketika memutuskan untuk berkomitmen melalui akad, kita tidak sedang membuat ikatan dengan manusia, tapi dengan Rabbnya.
.
Dulu saat masih single, pernah berpikir. "Apa yang paling membedakan menjalin hubungan saat sebelum dan sesudah menikah?"
Bahkan saat awal menikah, rasanya masih belum sepenuhnya menerima keadaan yang dianggap 'berbeda'.
.
"Nanti kalau sudah menikah, harus yakin untuk menjaga perasaan." Itu pesan umi.
Rasanya saat itu mendengar pesan tsb sepele saja, tapi kini kutahu maknanya.
.
Obrolan bersama orang-orang yang sudah menikah pun juga terasa sekali bedanya. Banyak kisah yang dibaca ataupun didengar tentang hiruk pikuk atau juga hingar bingar jungkir balik pernikahan, beragam.
.
Tak sedikit hati dan jalan pikiran menjadi mudah sekali menilai, tapi juga mewanti diri untuk tidak gegabah menganggap kisah orang lain tidak akan terjadi pada diri sendiri. Ya, setidaknya kita ikut mendoakan ada jalan terbaik sekaligus membentengi diri semoga Allah selalu jaga.
.
Setiap badai, ada masanya ia akan berhenti. Begitu juga dengan yang ada di hati.

Rasanya cukup realistis untuk mengatakan, "Sehebat apapun perasaan di masa lalu, pada akhirnya tidak akan berarti apa-apa saat ini."

"Sehebat apapun godaan saat ini, yang paling utama kita tahu arah kemana kita harus kembali."

Scroll, refresh, searching..

Sedang mencari apa?

Klik, cek, kosong..

Sedang menunggu siapa?

Lihat lagi, cek lagi, nonton lagi..

Jenuh~

Tutup sudah, buka lagi..

Kalau pun ada, terus mau apa?

Kalau tidak ada, terus mau cari ke mana?

Dasar aku.

Sedalam apa ingatan yang tersimpan di kotak pandora yang bahkan pemiliknya saja tidak bisa menerka?

Anehnya kita bisa mengingat detail suatu peristiwa 7 tahun lalu, tapi bisa lupa apa yang terjadi 3 bulan atau bahkan minggu kemarin.

Tiap sel otak yang dirancang sebegitu kompleksnya, yang pernah kubaca katanya ia bisa menyimpan memori dari jutaan buku yang telah dibaca, tapi ternyata bisa luput dengan kata "lupa".

Ternyata harus ada "kesan" yang melibatkan hati dan rasa untuk bisa menguatkan ingatan, benar?

Jadi aku cukup sebal karena sempat banyak melibatkan itu semua untuk kenangan yang seharusnya tidak menetap lama.

*some text missing*

Jangan ditambahkan lagi, karena semoga sisanya adalah apa yang sudah berhasil aku lupa.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com