Hmm..

.

.

Hening

.

Mencerna kata butuh kemampuan.

.

Membaca sandi butuh keahlian.

.

Mencari jejak pun butuh ada 'jejak' itu sendiri.

.

Menjawab teka teki?

Seperti sedang bermain tebak kata kali ya..

Tapiii..

Aku tahu tidak akan pernah ada jawaban.

Ketika memutuskan untuk berkomitmen melalui akad, kita tidak sedang membuat ikatan dengan manusia, tapi dengan Rabbnya.
.
Dulu saat masih single, pernah berpikir. "Apa yang paling membedakan menjalin hubungan saat sebelum dan sesudah menikah?"
Bahkan saat awal menikah, rasanya masih belum sepenuhnya menerima keadaan yang dianggap 'berbeda'.
.
"Nanti kalau sudah menikah, harus yakin untuk menjaga perasaan." Itu pesan umi.
Rasanya saat itu mendengar pesan tsb sepele saja, tapi kini kutahu maknanya.
.
Obrolan bersama orang-orang yang sudah menikah pun juga terasa sekali bedanya. Banyak kisah yang dibaca ataupun didengar tentang hiruk pikuk atau juga hingar bingar jungkir balik pernikahan, beragam.
.
Tak sedikit hati dan jalan pikiran menjadi mudah sekali menilai, tapi juga mewanti diri untuk tidak gegabah menganggap kisah orang lain tidak akan terjadi pada diri sendiri. Ya, setidaknya kita ikut mendoakan ada jalan terbaik sekaligus membentengi diri semoga Allah selalu jaga.
.
Setiap badai, ada masanya ia akan berhenti. Begitu juga dengan yang ada di hati.

Rasanya cukup realistis untuk mengatakan, "Sehebat apapun perasaan di masa lalu, pada akhirnya tidak akan berarti apa-apa saat ini."

"Sehebat apapun godaan saat ini, yang paling utama kita tahu arah kemana kita harus kembali."

Scroll, refresh, searching..

Sedang mencari apa?

Klik, cek, kosong..

Sedang menunggu siapa?

Lihat lagi, cek lagi, nonton lagi..

Jenuh~

Tutup sudah, buka lagi..

Kalau pun ada, terus mau apa?

Kalau tidak ada, terus mau cari ke mana?

Dasar aku.

Sedalam apa ingatan yang tersimpan di kotak pandora yang bahkan pemiliknya saja tidak bisa menerka?

Anehnya kita bisa mengingat detail suatu peristiwa 7 tahun lalu, tapi bisa lupa apa yang terjadi 3 bulan atau bahkan minggu kemarin.

Tiap sel otak yang dirancang sebegitu kompleksnya, yang pernah kubaca katanya ia bisa menyimpan memori dari jutaan buku yang telah dibaca, tapi ternyata bisa luput dengan kata "lupa".

Ternyata harus ada "kesan" yang melibatkan hati dan rasa untuk bisa menguatkan ingatan, benar?

Jadi aku cukup sebal karena sempat banyak melibatkan itu semua untuk kenangan yang seharusnya tidak menetap lama.

*some text missing*

Jangan ditambahkan lagi, karena semoga sisanya adalah apa yang sudah berhasil aku lupa.


Apa yang kamu ingat tentang tanah kelahiran?
Ia seperti tanah yang mengikat kemanapun kakimu sudah jauh melangkah, namun kamu akan kembali merindukannya.
Seperti sihir yang menjelma menjadi rindu yang dalam tentang segala kenangan yang pernah bahkan mungkin hanya ada dalam ingatan samar tentang bagaimana kamu hidup pertama kali di sana.
Tentang orang-orang yang seperti semua ikut merayakan langkah kecil pertamamu menginjakkan kaki di atasnya.
Mereka akan ikut mengarakmu kemanapun kakimu melangkah dengan senyum sederhana namun tulus adanya.
Tentang gemericik aliran air dari gunung di selokan depan rumah yang terus menyambung ke sela-sela aliran sawah di bawahnya.
Tentang udara yang kamu hirup setiap saat dengan wangi khas kayu bakar atau aronan nasi yang bercampur satu di sekitarnya.
Atau gunung itu?
Yang selalu tegak berdiri di belakang rumah setiap kali kamu membuka jendelanya.
Beberapa hal mungkin sudah berubah, tapi ingatan dan kenangannya tetap selalu ada dan kamu yakini ia tetap sama.
Beberapa orang mungkin kini sudah tiada, namun kehadirannya yang pernah ada di hidupmu akan tetap hidup selamanya.



Bagiku, menyukai Garut lebih kuat dari pada tempatku dibesarkan lainnya. Seperti hari ini.
Bagaimana denganmu?
Jika mencari dodol favoritku, kurekomendasikan dodol kacang merah juaranya. :)

 In hale, Ex hale..

"Apa yang melewatkanku, tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku." -Ummar Bin Khatab

.

.

.

Apapun perasaan yang masih tertinggal di hati hari ini yang seharusnya bukan milikku dan hanya membuat sesak, sembuhlah.

:)



Selalu ada pembicaraan seru setiap hari. Setiap waktu. Dengan siapapun. Bahas apapun.
Tapi hanya sedikit yang bisa kita sebut deep talk.

Jika dulu biasa kulakukan dengan umi, sahabat atau adik, setelah menikah jelas partner deep talk-ku adalah suami.

Menikah itu seperti perjalanan, bisa menyenangkan, seru menegangkan, sesekali membosankan, selebihnya banyak penyesuaian.

Banyak orang bilang, 5 tahun pertama adalah yang tersulit. Aku sudah 6 tahun, apakah sudah lebih baik? Tapi yang jelas, kami bertumbuh.

Banyak hal yang bisa disepakati, asal mau komunikasi. Aku bersyukur didampingi ia yang bisa lebih banyak mendengar dan suka membahas hal ajaib yang paling garing sekalipun.

Perlukah deep talk? Oh jelas, karena akan banyak kesepakatan dan juga penyesuaian yang bisa terjalin baik karena pembicaraan yang matang. Seberapa sering? Kalau aku pribadi ya sesuai kebutuhan.

Mungkin itu sebab menikah adalah ibadah terpanjang waktunya. Karena memang ada misi jangka pendek dan misi jangka panjang, rencana dadakan bahkan kejadian tanpa rencana.

Seperti hari ini, Nata tiba-tiba demam sejak semalam, pagi bangun dan ternyata ada ruam merah di telapak tangan-kaki. Jadwalku hari pertama pesantren kilat sampai jam 10.00. Suami inisiatif untuk WFH tapi harus memandu rapat via zoom. Jam 10.00 aku jemput Nata untuk cek ke klinik, dan ternyata benar, ia terpapar 'flu singapur'. Oke, Nata gak bisa sekolah untuk beberapa hari ke depan dan memang akan libur juga. Besok, aku ada rapat di hotel daerah Tegallega. Lalu, siapa yang harus mengalah untuk stay di di rumah? Nah, di sini biasanya kami akan deep talk. 

Setidaknya itu cara kami untuk survive saling bergantung satu sama lain karena di kota ini, kami hanya berdua, tanpa keluarga lain. 

Satu hal yang pasti, apapun keputusan yang diambil, prinsip kami sama, "family first".

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com