Sedalam apa ingatan yang tersimpan di kotak pandora yang bahkan pemiliknya saja tidak bisa menerka?

Anehnya kita bisa mengingat detail suatu peristiwa 7 tahun lalu, tapi bisa lupa apa yang terjadi 3 bulan atau bahkan minggu kemarin.

Tiap sel otak yang dirancang sebegitu kompleksnya, yang pernah kubaca katanya ia bisa menyimpan memori dari jutaan buku yang telah dibaca, tapi ternyata bisa luput dengan kata "lupa".

Ternyata harus ada "kesan" yang melibatkan hati dan rasa untuk bisa menguatkan ingatan, benar?

Jadi aku cukup sebal karena sempat banyak melibatkan itu semua untuk kenangan yang seharusnya tidak menetap lama.

*some text missing*

Jangan ditambahkan lagi, karena semoga sisanya adalah apa yang sudah berhasil aku lupa.


Apa yang kamu ingat tentang tanah kelahiran?
Ia seperti tanah yang mengikat kemanapun kakimu sudah jauh melangkah, namun kamu akan kembali merindukannya.
Seperti sihir yang menjelma menjadi rindu yang dalam tentang segala kenangan yang pernah bahkan mungkin hanya ada dalam ingatan samar tentang bagaimana kamu hidup pertama kali di sana.
Tentang orang-orang yang seperti semua ikut merayakan langkah kecil pertamamu menginjakkan kaki di atasnya.
Mereka akan ikut mengarakmu kemanapun kakimu melangkah dengan senyum sederhana namun tulus adanya.
Tentang gemericik aliran air dari gunung di selokan depan rumah yang terus menyambung ke sela-sela aliran sawah di bawahnya.
Tentang udara yang kamu hirup setiap saat dengan wangi khas kayu bakar atau aronan nasi yang bercampur satu di sekitarnya.
Atau gunung itu?
Yang selalu tegak berdiri di belakang rumah setiap kali kamu membuka jendelanya.
Beberapa hal mungkin sudah berubah, tapi ingatan dan kenangannya tetap selalu ada dan kamu yakini ia tetap sama.
Beberapa orang mungkin kini sudah tiada, namun kehadirannya yang pernah ada di hidupmu akan tetap hidup selamanya.



Bagiku, menyukai Garut lebih kuat dari pada tempatku dibesarkan lainnya. Seperti hari ini.
Bagaimana denganmu?
Jika mencari dodol favoritku, kurekomendasikan dodol kacang merah juaranya. :)

 In hale, Ex hale..

"Apa yang melewatkanku, tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku." -Ummar Bin Khatab

.

.

.

Apapun perasaan yang masih tertinggal di hati hari ini yang seharusnya bukan milikku dan hanya membuat sesak, sembuhlah.

:)



Selalu ada pembicaraan seru setiap hari. Setiap waktu. Dengan siapapun. Bahas apapun.
Tapi hanya sedikit yang bisa kita sebut deep talk.

Jika dulu biasa kulakukan dengan umi, sahabat atau adik, setelah menikah jelas partner deep talk-ku adalah suami.

Menikah itu seperti perjalanan, bisa menyenangkan, seru menegangkan, sesekali membosankan, selebihnya banyak penyesuaian.

Banyak orang bilang, 5 tahun pertama adalah yang tersulit. Aku sudah 6 tahun, apakah sudah lebih baik? Tapi yang jelas, kami bertumbuh.

Banyak hal yang bisa disepakati, asal mau komunikasi. Aku bersyukur didampingi ia yang bisa lebih banyak mendengar dan suka membahas hal ajaib yang paling garing sekalipun.

Perlukah deep talk? Oh jelas, karena akan banyak kesepakatan dan juga penyesuaian yang bisa terjalin baik karena pembicaraan yang matang. Seberapa sering? Kalau aku pribadi ya sesuai kebutuhan.

Mungkin itu sebab menikah adalah ibadah terpanjang waktunya. Karena memang ada misi jangka pendek dan misi jangka panjang, rencana dadakan bahkan kejadian tanpa rencana.

Seperti hari ini, Nata tiba-tiba demam sejak semalam, pagi bangun dan ternyata ada ruam merah di telapak tangan-kaki. Jadwalku hari pertama pesantren kilat sampai jam 10.00. Suami inisiatif untuk WFH tapi harus memandu rapat via zoom. Jam 10.00 aku jemput Nata untuk cek ke klinik, dan ternyata benar, ia terpapar 'flu singapur'. Oke, Nata gak bisa sekolah untuk beberapa hari ke depan dan memang akan libur juga. Besok, aku ada rapat di hotel daerah Tegallega. Lalu, siapa yang harus mengalah untuk stay di di rumah? Nah, di sini biasanya kami akan deep talk. 

Setidaknya itu cara kami untuk survive saling bergantung satu sama lain karena di kota ini, kami hanya berdua, tanpa keluarga lain. 

Satu hal yang pasti, apapun keputusan yang diambil, prinsip kami sama, "family first".

Ada banyak teka-teki dalam hidup yang ternyata memang tidak selalu butuh harus dijawab.

Dititipkan rasa hingga mewujud rupa pengharapan adalah bentuk konstelasi waktu yang merupakan 'apa-apa yang tidak bisa kita kendalikan' lainnya. Apalagi jika itu adalah masa lalu.

Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.

Ini adalah pernyataan Soedjiwo Tejo yang menurutku paling berbahaya. Aku tidak setuju pun tidak menyanggah jika hal seperti itu memang ada. Bisa terjadi. Dengan siapapun.

Banyak hal dalam mencerna perjalanan waktu yang telah dilalui untuk sampai di tahap cukup. Sebagaimana takdir dan waktu adalah sesuatu yang kita yakini ada Pemiliknya.

Jadi, membiasakan perasaan itu ada namun tak memaksa wujudnya harus nyata adalah bagian dari proses merelakan bagiku. Karena hal yang dianggap biasa tak akan menjadi istimewa pada akhirnya.

Sebagaimana anak laki-laki milik ibunya, dan anak perempuan adalah milik ayahnya.

Aku pernah membahas ini, dulu. Bagaimana aku merasa bahwa tidak ada laki-laki di dunia ini yang paling mencintaiku, lebih dari beliau. Tentunya sebelum aku menikah.

Bapak, begitu aku menyebutnya, adalah sosok ayah yang mungkin tidak pandai mengekspresikan perasaannya lewat kata-kata, namun lebih ke tindakan. 

Selama 25 tahun pengasuhannya, sama sekali aku belum pernah mendengar beliau marah membentak, apalagi memukul jika aku dan adik-adikku berulah. Yang akhirnya aku tahu alasannya setelah menikah, beliau senang bila aku mendengarkannya cerita atau curhat, itu adalah kebiasaanku dan bapak untuk duduk di teras rumah atau taman belakang yang sering kusengaja karena beliau sangat butuh teman berbincang. 

Malam itu bapak membuka obrolan, bapak bilang ia begitu bersyukur aku menikah dengan suamiku yang menurutnya sangat baik dan penyayang. Aku aminkan. "Waktu kamu nikah, bapak nangis karena antara berat dan lega melepas kamu. Seumur-umur bapak gak mau kasar ke anak, karena takut kamu nanti diperlakukan kasar juga sama suami kamu." :')

Deg, rasanya tenggorokan tercekat karena aku menahan nangis saat bapak bilang begitu. Ia begitu meyakini bahwa apa yang dilakukan oleh orang tua kepada anak hari ini, akan menjadi cermin bagi kehidupan anaknya kelak, dan aku sangat bersyukur karenanya.

Umi dan bapak mungkin bukan pasangan sempurna versiku, tapi sebagaimana tidak ada pasangan yang sempurna di dunia ini, mereka adalah panutanku sebagai pasangan yang saling melengkapi satu sama lain.

     Aksara yang tersusun dalam deret barisan menjelma menjadi sebuah tulisan bermakna yang membuatku merasa bebas berekspresi. Terkadang aksara menjelma menjadi ungkapan kegundahan, rasa tidak puas, buntu mencari jalan, atau bahkan sekedar coretan tak berarah. Aksara adalah panah, dan menuliskannya adalah busur yang menjadikannya tepat sasaran. Jadi, bisa kuanggap aksara adalah senjata bagiku.

    Bagimu, apa makna aksara dalam tulisanmu?

    Seperti yang aku tuliskan dalam minor heading blogku. "Tidak semua yang kutulis adalah tentangmu, dan tidak semua yang kamu baca adalah tentangku", terkadang aku akan sangat berisik jika memang itu belum selesai kusampaikan. Lebih seringnya, aku akan menulis hingga merasa bosan dengan apa yang sedang aku bahas. Setelah itu, mungkin tidak akan kamu temukan apapun lagi dalam tulisanku.

    Anggaplah aku sedang menyelami waktu rehabilitasiku, dan menulis membuatku merasa waras tanpa merasa ini candu yang membuatku tenggelam di dalamnya. 

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com