November. Bulan ini adalah bulannya para pahlawan.

Salah satu pahlawan dalam wujud profesi yang memiliki dedikasi tinggi untuk memanusiakan manusia, Guru.

Bulan ini, di setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional. 

03 Okt 2016
11:17 waktu Bandung


Perpisahan tanpa penjelasan itu lebih menyakitkan dari apapun.

Kita berada di kota yang sama tapi seperti sulit untuk menjangkau satu sama lain.
Langkahmu atau langkahku yang tertahan?


"Aku akan cari kamu, nanti."

Ini katamu.

Bisakah aku pegang ucapan ini sebagai satu-satunya yang bisa aku yakini sekarang?


Aku tidak suka Bandung.
kau bilang, itu hanya perasaan sesaat karena kita sedang berada di situasi yang tidak menyenangkan saat ini.
Bagaimana aku harus menyukai Bandung?
Kota ini kuanggap sebagai kota yang tepat untuk jatuh cinta.
Tapi menjadi yang paling buruk untuk menciptakan rasa sakit hati.


Setiap detil jalannya, itu adalah kamu.
Setiap tetesan hujannya, itu juga kamu.
Bandung selalu hujan, itu berarti ingatan tentangmu tidak pernah bisa alpa aku sembunyikan.


Entah kenapa, aku merasa kamu hilang.
dan mimpi itu perlahan juga ikut hilang.
untuk terakhir kalinya aku memintamu untuk pulang..
pulanglah ke rumahmu. Aku.
20:27 WIB saat kulihat jam di sudut kanan bawah laptopku ketika memulai untuk menulis malam ini.
Lagi, fokusku teralihkan dari mengerjakan RPP bersama seluruh perangkat pembelajarannya jika sudah mulai terkoneksi dengan internet.
Berawal dari iseng membuka salah satu akun sosmed yang berantai kubuka akun lainnya, membaca blog seseorang dan tergoda kubuka blogku sendiri, aku tersentil karena mengingat satu hal.
Hari ini, kalau bukan karena pengalaman setahun yang lalu, aku tidak mungkin berada di sini. Bandung.

Setahun yang lalu, bahkan seperti kenangan yang sengaja dikubur untuk hanya dijadikan ingatan pribadi, aku merasa sangat egois karena sudah melakukannya.
kau tahu kenapa? Karena aku sempat menolak untuk menuliskannya dalam bentuk apapun.

Laut dari atas bukit Liman, P. Semau

Setahun yang lalu, angin dan langit itu berbicara.
Setahun yang lalu, laut itu menjelma menjadi sebuah aksara tentang pengabdianku di sudut pulau kecil Nusantara, Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur.
Aku menemukan wajah asli Ibu pertiwiku dari matanya, mata mereka, murid-muridku.
Aku merindukannya. Lebih dari itu, ada sebentuk hati yang terlanjur aku tinggalkan di sana.
Aku bukanlah pengajar yang baik untuk mereka, karena aku sadar merekalah guru yang sebenarnya, yang tumbuh alami dari didikan alam tepat di bawah kaki langit yang jauh dari jangkauan teknologi komersil yang mengusik.

Gerhana bulan terlihat jelas di Naikean
Aku ingat malam itu, ketika merencanakan untuk pergi ke pantai bersama rekanku. aku bertemu dengan salah satu muridku di sana bersama dengan ayahnya yang sedang memancing ikan menggunakan kail dan benang, sederhana sekali. Aku berjalan menghampirinya dan menyapa keduanya. Laut terlalu gelap tanpa ada penerangan apapun kecuali cahaya bulan. Mendadak aku teringat satu hal ketika jarak antara aku dengan mereka hanya hitungan jengkal, tentang cerita tak mengenakan tempo hari di sekolah. 
Muridku, yang memiliki garis wajah dan warna kulit keturunan Jawa memang sangat menarik perhatianku sejak hari pertama kulabelkan diriku sebagai seorang guru di sekolah itu. Ia lahir dari seorang ibu asli Jawa dan ayahnya berasal dari Rote. Ibunya meninggal tidak lama setelah ia lahir dan ayahnya kini sudah menikah lagi dan memberikan 4 orang adik yang masih sangat kecil-kecil.
Muridku ini teramat pendiam di kelas, namun banyak terlibat kasus yang membuatnya dicap sebagai anak nakal, terutama menyangkut hal absen sekolah karena ia sering sekali membolos. Aku tidak mengerti bagaimana wajah polos itu bisa menjadi tidak patuh terhadap peraturan. Setelah kuselidiki, barulah aku tahu bahwa ia membolos bukan atas kemauannya, melainkan perintah ibu tirinya yang memintanya untuk mengasuh adik-adiknya selama wanita paruh baya itu sibuk mengikat agar-agar (rumput laut) di laut.
Perlu kuinformasikan terlebih dahulu, bahwa tempatku mengabdi merupakan pulau penghasil komoditas rumput laut terbesar di NTT. 
Label tersebut memberikan alasan pahit kenapa saat musim ikat dan panen tiba, banyak muridku yang hilang dari peredaran sekolah dan beralih sibuk di laut. 

Rumah laut untuk menjemur rumput laut
Masalah utama yang menyebabkan kekerdilan pendidikan di tanah ini bukan karena gadget ataupun pengaruh buruk sinetron seperti halnya di Jakarta, melainkan paradigma orang tua mereka yang menganggap naik turunnya harga jual rumput laut jauh lebih penting daripada kehadiran anak-anaknya di sekolah.
21:41 WIB, apakah malam ini sedang purnama?
Dengan beda waktu 1 jam lebih cepat di sana, aku bisa membayangkan kaki-kaki kecil itu sedang menjajaki surutnya pantai untuk mencari gurita di bebatuan dan karang dangkal.
Mereka, aku tak berharap mereka mendapatkan guru sepertiku lagi yang tak bisa memberikan banyak.
Namun harapku jelas, bukan untuk memamerkan secuil pengabdian, tapi semoga ada bagian dari diriku yang tak membuat mereka lupa tentang nikmatnya memperjuangkan mimpi dan harapan melalui pendidikan.
:)


Aku, mereka, dan kelas kebanggaanku








Hai, Rindu.

Senja hari ini, aku menemukanmu pada wajah yang baru.
Dia mungkin tak kau kenali, atau aku yang sebenarnya baru mengenalnya dan kau sudah.
Ada rasa yang terlanjur dititipkan terburu-buru.
Terlalu dini jika kusebut dia adalah rasa yang sempat kita sepakati.
Cinta.

Pernah ada yang mengutuk dalam kesendiriannya,
semoga cinta tak kembali hadir hanya untuk sekali lagi dipatahkan.
Atau mungkin aku lupa, tapi sepertinya hati tidak.
Kau tahu?
Hati benar-benar mengenali dirinya lebih dari pada aku.

Seperti mempertaruhkannya di meja lotre, pilihan masih akan tetap sama.
Ah, tak perlu dipermasalahkan analogiku.
Itu hanya akan menjadi "seperti", sedangkan aku hanya akan membahas "rasa".
Iya, rasanya sama.
Bisa jadi, kau akan memenangkannya.
Tapi lebih bisa jadi, kau akan menelan pahit kehilangan semuanya sekali lagi.
Lalu apa?
Masih tidak benar jika tidak ada yang dipertaruhkan, bukan?
Baiklah, barangkali akan seperti ini.

"Aku akan mulai sibuk mengganti topik pembicaraanku menjadi tentangmu dengan-Nya sambil kita terus berbahagia hingga hati dapat lebih cepat bekerja menyembuhkan dirinya dan Tuhan tahu kita tidak sedang bercanda."
Kau setuju dengan ideku?



Assalamualaikum, salam semangaaaat!!

Kali ini, aku mau bahas sedikit pengalaman dan perjalanan 1-2 tahun yang lalu ketika masih menjadi mahasiswi tingkat akhir di fakultas pendidikan, jurusan PGSD di UNJ.

Kalau kamu belum tahu apa itu PGSD, itu adalah jurusan yang didedikasikan khusus bagi mahasiswa yang ingin menjadi guru SD setelahnya. Ya, PGSD adalah kepanjangan dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Oke, tapi aku gak akan bahas PGSD lebih jauh karena kali ini yang mau aku bahas adalah salah satu bentuk penelitian yang biasanya akan dipilih ketika kamu sudah berada di semester akhir alias menyusun skripsweet. Hehe :)

R & D atau dalam Bahasa Indonesia adalah Penelitian dan Pengembangan sebenarnya bukan hanya khusus untuk dunia pendidikan saja, karena penelitian ini cukup luas jangkauannya namun dengan satu fokus yang sama, yaitu mengembangkan suatu produk atau metode, atau menyempurnakan ide dan lain sebagainya.
Intinya, R & D ini mengajak kamu untuk berpikir lebih kreatif tidak hanya meneliti dan memecahkan suatu masalah dengan treatment tertentu tetapi juga membuat inovasi baru dan biasanya menciptakan karya yang nantinya dapat menjadi solusi untuk masalah yang ada dan tidak hanya yang sedang kamu teliti saja.
Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang syarat hitung-hitungan atau kualitatif yang didominasi dengan deskripsi penelitian, R & D ini adalah bentuk keseimbangan kedua penelitian tersebut. Yang menarik dari R & D adalah kamu bebas menggabungkan metode kuanti dan kuali yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan penelitian kamu. Jadi, menurut aku, ini sangat memudahkan.

Pengalamanku menyusun skripsi dengan tipe penelitian ini bukan tanpa alasan.
Berawal dari ketertarikan saat melihat skripsi kakak tingkat yang telah berhasil menciptakan buku lagu sehingga bisa ia gunakan nantinya saat sudah terjun langsung di dunia sekolah membuatku termotivasi juga untuk menciptakan hal serupa namun dengan bentuk yang berbeda.
Waktu itu aku mengambil fokus penelitian di mata pelajaran Matematika, karena meskipun sudah banyak penelitian di mapel ini, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau Matematika tetaplah menjadi masalah tersulit bagi peserta didik kita di sekolah dasar. Oleh karena itu, aku memberanikan diri untuk mengajukan judul skripsi dengan jenis penelitian R & D yaitu Pengembangan Modul Matematika Bergambar.

Sempat ditolak beberapa kali oleh dosen pembimbing saat itu dan juga dosen expert di bidang Matematika karena dianggap Modul itu terlalu luas dan juga tidak cocok untuk usia SD. Menurut mereka, Modul biasanya ditujukan untuk pelajar tingkat atas yang sudah mampu belajar secara mandiri. But, skripsi must go on, right? hehe, Jadi aku lanjut terus dengan menyusun proposalnya hingga bab 3 dan membuat draft awal modul yang akan dikembangkan untuk meyakinkan mereka.
Hasilnya? Alhamdulillah, berhasil! Judul dan proposalku diterima namun dengan revisi judul yang berubah menjadi "Pengembangan Bahan Ajar Matematika Bergambar Materi Pecahan Di Sekolah Dasar."

Cover Modul MatematikArt Bilangan Pecahan

Kalau kamu juga merasakan hal serupa, saranku adalah jangan menyerah! Anggap ini adalah bentuk ujian pertama sebagai penggagas ide dan untuk menunjukkan keseriusanmu untuk melanjutkan proyek tersebut, karena sebenarnya dosen itu sering menilai kesungguhan mahasiswanya agar jangan sampai kesulitan di tengah jalan dan akhirnya menyerah sehingga skripsimu gak kelar-kelar.
Seperti yang dosen favoritku bilang, "skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai, titik."

So, buat kamu yang juga tertarik menyusun skripsi dengan tipe R & D ini, aku kasih sedikit tips dan semoga bermanfaat.

1. Pastikan kamu benar-benar sanggup tidak hanya niat untuk serius terjun dalam penelitian ini.
    Karena jujur, penelitian ini benar-benar melelahkan dan menguras waktu lebih ekstra.

2. Pastikan ide kamu orisinil dan memang sangat diperlukan untuk dikembangkan.

3. Tentukan dengan jelas, ide kamu ini bisa dikembangkan untuk bidang mapel yang mana.

4. Judul kamu harus mencerminkan produk yang kamu kembangkan.
Khusus judul, R & D ini bahkan tidak memiliki variabel terikat karena memang ini fokus membahas produk kamu, jadi pastikan produk itu "menjual" di skripsi kamu.

5. Pilih model pengembangan R & D yang sesuai dengan produk yang kamu kembangkan, karena model R & D itu banyak jenisnya.

6. Referensi pengembangan R & D terbilang masih sedikit dan kebanyakan masih fokus untuk dunia bisnis dan bidang umum lainnya. Jadi pintar-pintarlah untuk lebih sering berkomunikasi dengan dosen yang memang expert dengan R & D agar kamu bisa dapat pencerahan.

7. Jika penelitianmu ingin menghasilkan produk yang memerlukan desain tertentu, jangan ragu untuk meminta bantuan ahli desain jika memang kamu tidak mampu mengerjakan sendiri. Tenang saja, kamu tidak akan dianggap tidak kompeten karena produkmu dikerjakan orang lain karena sebenarnya yang dinilai adalah idemu, sedangkan pengerjaannya boleh meminta bantuan orang lain. Ingat ya, bukan menyerahkan semuanya dikerjakan dari nol oleh orang lain, tetapi semua ide produk tetap kamu yang merencanakan, ahli hanya membantu mewujudkannya dalam bentuk yang sesuai harapanmu.

8. Jika nantinya produk kamu ingin diproduksi dan diujicobakan pada konsumen, pastikan waktunya harus sesuai. Jika produkmu untuk anak SD dan itu mengacu pada materi di semester 2 jangan sampai kamu mengujicobakannya di semester 1 karena dianggap tidak relevan. Jadi, mulai pikirkan estimasi yang kamu butuhkan dalam proses pengembangan produk dan juga waktu saat uji coba. Untuk info,  R & D yang sesungguhnya memang memerlukan waktu yang lebih lama dibanding penelitian lainnya karena penelitian ini akan sering menemukan tahap "trial and error" sehingga membutuhkan revisi berulang-ulang untuk akhirnya bisa diterima.

9. Sering-seringlah meminta pendapat, saran dan kritikan dari pengguna produk kamu, baik itu siswa atau guru, dosen dan juga orang sekitarmu tentang produkmu itu, karena meskipun kamu merasa produkmu sudah sempurna tetapi nantinya produk itu kan bukan untuk kamu gunakan sendiri tetapi konsumenmu, jadi jangan egois dan sakit hati yah kalau nantinya produkmu harus dirombak berulang-ulang.

10. Yang terpenting dari penelitian ini adalah budget! Yah, tidak bisa dipungkiri, R & D yang menghasilkan suatu produk apalagi saat uji coba harus diperbanyak sesuai jumlah sampel itu sangat menguras budget kamu. Jadi, mulai pikirkan masalah keuangan dari awal kamu memilih penelitian ini.Sering-sering menabung dan cari pundi-pundi keuangan yang bisa kamu dapatkan. Mulai dari beasiswa, atau uang saku bulanan dari orang tua, atau kerja sambilan sebelum kamu memulai skripsi dan juga mencari alternatif cerdas untuk menekan budgetmu saat produksi. Misalnya produkmu adalah buku dan nantinya akan dibagikan kepada sejumlah sampel, jika buku itu masih tahap awal dan nantinya akan ada revisi tidak perlu kamu mencetaknya di percetakan, itu terlalu mahal karena percetakan biasanya untuk mencetak skala besar. Jadi kalau hanya beberapa buah buku saja, lebih baik kamu mencetak sendiri dengan printermu. Atau jika produkmu berupa media pembelajaran seperti alat peraga, kamu bisa membuatnya hanya 3 buah saja dan nantinya saat diujicobakan menggunakan simulasi berkelompok jadi tidak perlu 1 anak 1 alat peraga.

Yup, itu 10 tips yang bisa aku bagikan buat kamu yang semuanya disesuaikan dengan pengalamanku sendiri saat mengerjakan R & D ku.
Setiap orang pasti akan menemui masalah dan pemecahannya yang berbeda, 10 tips itu tentu tidak bisa mencover semua masalah kamu.
Jadi, jika kamu ingin berbagi atau berdiskusi lebih lanjut, kamu bisa langsung menuliskan komentar di bawah tulisan ini atau menghubungiku via FB atau kontakku.

Sukses buat skripsimu!
Semangat menjadi mahasiswa luar biasa dengan menciptakan karyanya sendiri!
:)
Rasanya seperti mau berteriak sambil lompat-lompat untuk mengatakan "Gue Bebaaaaassss" >.<

Kenapa?
Karena setelah hampir 3 bulan yang terasa seperti 1 tahun akhirnya hari ini datang.
:D
Tiga bulan berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan hati seseorang ternyata menyiksa pada kenyataannya.
Berusaha menjadi apa yang orang lain inginkan hingga keluar dari zona "gue" itu, aaarrgggghhh..

Hei girls, aku tidak akan menyalahkanmu yang hari ini masih berjuang mati-matian demi priamu.
Tapi mungkin, ada baiknya kamu pastikan apakah tujuannya juga hanya satu selama ini yaitu kamu.
Haha, ini bukan omongan sinis dari seseorang yang gagal berjuang dan akhirnya memilih menjadi masiv.
Aku hanya tidak ingin, kamu yang sudah terlalu banyak menguras energi, membuang banyak waktu dan mengabaikan mimpi demi priamu itu harus menelan pil pahit akhirnya saat menerima kenyataan yang berbanding terbalik dari khayalan.
Iya, khayalan..
Jujurlah, kita perempuan memang terlalu pintar bermain perasaan dan sangat ahli merangkai skenario sebuah cerita khayalan yang selalu berujung happy ending.

But, fairy tales don't always have a happy ending, right?

Aku tidak akan mencari sekutu atau memintamu untuk ikut mengutuki dia yang sudah pergi meninggalkanku.
Seperti banyak kisah gagal lainnya, aku hanya pemain yang belum beruntung saat ini untuk menemukan dia yang tepat.
Tapi, bukankah kita tahu bahwa jodoh, rejeki, dan umur kita sudah ada yang mengatur?
Seseorang yang cerdas dan percaya Tuhannya tidak tidur, tidak akan merisaukan masalah ini bukan?
Jadi, aku pun merelakannya tanpa berharap suatu saat dia akan kembali atau menyesal.
Aah..biarkan itu menjadi urusan dia dan hatinya bagaimana nanti.
Yang penting saat ini, aku bahagia. Itu saja :)

Ada satu kutipan yang aku suka dan saat ini cukup menguatkan,

"Being alone is better than being with the wrong person"

Kudoakan, semoga kisahmu lebih beruntung.. :)
Kamu mungkin akan tidak setuju jika kuberitahu bahwa ada yang lebih sakit dari rasanya kehilangan.
Perasaan tiap orang memang relatif, dan ini aku ambil dari sudut pandangku yang sedang merasakan.

Iya, kehilangan itu menyakitkan memang.
Semua orang tidak akan pernah siap jika harus menghadapinya.
Kehilangan di sini mungkin bisa berwujud dalam beberapa bentuk, tapi kali ini aku akan membahas kehilangan dalam bentuk seseorang yang kamu anggap penting dalam hidupmu.

Seseorang yang pernah jatuh cinta dan patah hati sekaligus pasti pernah merasakannya.
Di saat hati dan asa sudah melambung tinggi dan kemudian dihempaskan hingga jungkir balik di tanah itu rasanya seperti kehilangan separuh nyawa.
Dia pergi begitu saja meninggalkan hati yang masih dititipkan padanya.
Kupikir tidak akan pernah ada yang lebih sakit dari itu.
Tapi ternyata, masih ada keadaan yang lebih menyakitkan rasanya.

Diabaikan..

Iya, harus kukatakan diabaikan lebih sakit dari pada kehilangan..
Keadaan dimana kamu tau dia masih milkmu tapi hatinya mungkin sudah bukan untukmu.
Kamu bisa memastikan kabarnya baik-baik saja sebagai kekasihmu, tetapi dia sama sekali tidak tertarik menganggapmu masih kekasihnya.
Kamu bisa mati-matian memberikan perhatian ini itu padanya, dan harus puas dengan tanggapan kosong darinya.
Berharap saat kamu menemukan hatimu sakit saat malam tiba karena merindukannya dan kemudian akan sembuh paginya setelah mendapat pesan singkat "selamat pagi" darinya tapi ternyata tidak ada.
Kamu mencoba menghibur diri dengan selalu mengingatkannya makan dan juga menyemangatinya bekerja hanya demi melihatnya membaca pesanmu dan kemudian membalasnya, ternyata harus menunggu hingga malam tiba untuk kamu mendapatkannya.
Itupun kalau dia tidak lupa.

Sebenarnya aku tidak ingin menyesali keputusan memberikan kesempatan kedua baginya yang sempat membuatku terluka sebelumnya.
Kupikir, setiap manusia berhak mendapat pengampunan dan kesempatan memperbaiki diri.
Ya, aku memberikan padanya kesempatan untuk membuktikan cintanya.
Aku belajar percaya lagi padanya.
Namun ibarat membangun istana pasir,sebelum mencapai puncak ia sudah menghancurkannya kembali.
Sekarang, seperti tidak ada lagi yang tersisa karena perlahan perasaanku padanya mulai terkikis dan menipis.
Mungkin, merelakan dia yang mengabaikanku untuk semakin jauh akan lebih baik untukku dan juga untuk hatiku.
Sekarang, bukan ingin berjalan mundur, aku memilih untuk pergi menjauh.
Iya, kuputuskan kali ini aku yang akan pergi.

Terima kasih sudah pernah membuatku bahagia sekaligus terluka hingga membuatku harus belajar menyembuhkan sendiri sakitnya.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com