Rasanya seperti mau berteriak sambil lompat-lompat untuk mengatakan "Gue Bebaaaaassss" >.<

Kenapa?
Karena setelah hampir 3 bulan yang terasa seperti 1 tahun akhirnya hari ini datang.
:D
Tiga bulan berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan hati seseorang ternyata menyiksa pada kenyataannya.
Berusaha menjadi apa yang orang lain inginkan hingga keluar dari zona "gue" itu, aaarrgggghhh..

Hei girls, aku tidak akan menyalahkanmu yang hari ini masih berjuang mati-matian demi priamu.
Tapi mungkin, ada baiknya kamu pastikan apakah tujuannya juga hanya satu selama ini yaitu kamu.
Haha, ini bukan omongan sinis dari seseorang yang gagal berjuang dan akhirnya memilih menjadi masiv.
Aku hanya tidak ingin, kamu yang sudah terlalu banyak menguras energi, membuang banyak waktu dan mengabaikan mimpi demi priamu itu harus menelan pil pahit akhirnya saat menerima kenyataan yang berbanding terbalik dari khayalan.
Iya, khayalan..
Jujurlah, kita perempuan memang terlalu pintar bermain perasaan dan sangat ahli merangkai skenario sebuah cerita khayalan yang selalu berujung happy ending.

But, fairy tales don't always have a happy ending, right?

Aku tidak akan mencari sekutu atau memintamu untuk ikut mengutuki dia yang sudah pergi meninggalkanku.
Seperti banyak kisah gagal lainnya, aku hanya pemain yang belum beruntung saat ini untuk menemukan dia yang tepat.
Tapi, bukankah kita tahu bahwa jodoh, rejeki, dan umur kita sudah ada yang mengatur?
Seseorang yang cerdas dan percaya Tuhannya tidak tidur, tidak akan merisaukan masalah ini bukan?
Jadi, aku pun merelakannya tanpa berharap suatu saat dia akan kembali atau menyesal.
Aah..biarkan itu menjadi urusan dia dan hatinya bagaimana nanti.
Yang penting saat ini, aku bahagia. Itu saja :)

Ada satu kutipan yang aku suka dan saat ini cukup menguatkan,

"Being alone is better than being with the wrong person"

Kudoakan, semoga kisahmu lebih beruntung.. :)
Kamu mungkin akan tidak setuju jika kuberitahu bahwa ada yang lebih sakit dari rasanya kehilangan.
Perasaan tiap orang memang relatif, dan ini aku ambil dari sudut pandangku yang sedang merasakan.

Iya, kehilangan itu menyakitkan memang.
Semua orang tidak akan pernah siap jika harus menghadapinya.
Kehilangan di sini mungkin bisa berwujud dalam beberapa bentuk, tapi kali ini aku akan membahas kehilangan dalam bentuk seseorang yang kamu anggap penting dalam hidupmu.

Seseorang yang pernah jatuh cinta dan patah hati sekaligus pasti pernah merasakannya.
Di saat hati dan asa sudah melambung tinggi dan kemudian dihempaskan hingga jungkir balik di tanah itu rasanya seperti kehilangan separuh nyawa.
Dia pergi begitu saja meninggalkan hati yang masih dititipkan padanya.
Kupikir tidak akan pernah ada yang lebih sakit dari itu.
Tapi ternyata, masih ada keadaan yang lebih menyakitkan rasanya.

Diabaikan..

Iya, harus kukatakan diabaikan lebih sakit dari pada kehilangan..
Keadaan dimana kamu tau dia masih milkmu tapi hatinya mungkin sudah bukan untukmu.
Kamu bisa memastikan kabarnya baik-baik saja sebagai kekasihmu, tetapi dia sama sekali tidak tertarik menganggapmu masih kekasihnya.
Kamu bisa mati-matian memberikan perhatian ini itu padanya, dan harus puas dengan tanggapan kosong darinya.
Berharap saat kamu menemukan hatimu sakit saat malam tiba karena merindukannya dan kemudian akan sembuh paginya setelah mendapat pesan singkat "selamat pagi" darinya tapi ternyata tidak ada.
Kamu mencoba menghibur diri dengan selalu mengingatkannya makan dan juga menyemangatinya bekerja hanya demi melihatnya membaca pesanmu dan kemudian membalasnya, ternyata harus menunggu hingga malam tiba untuk kamu mendapatkannya.
Itupun kalau dia tidak lupa.

Sebenarnya aku tidak ingin menyesali keputusan memberikan kesempatan kedua baginya yang sempat membuatku terluka sebelumnya.
Kupikir, setiap manusia berhak mendapat pengampunan dan kesempatan memperbaiki diri.
Ya, aku memberikan padanya kesempatan untuk membuktikan cintanya.
Aku belajar percaya lagi padanya.
Namun ibarat membangun istana pasir,sebelum mencapai puncak ia sudah menghancurkannya kembali.
Sekarang, seperti tidak ada lagi yang tersisa karena perlahan perasaanku padanya mulai terkikis dan menipis.
Mungkin, merelakan dia yang mengabaikanku untuk semakin jauh akan lebih baik untukku dan juga untuk hatiku.
Sekarang, bukan ingin berjalan mundur, aku memilih untuk pergi menjauh.
Iya, kuputuskan kali ini aku yang akan pergi.

Terima kasih sudah pernah membuatku bahagia sekaligus terluka hingga membuatku harus belajar menyembuhkan sendiri sakitnya.


Kamu suka sunset?
atau kamu tidak tahu apa itu sunset?
Ah.. pasti kamu bercanda

Biar kuberi tahu sesuatu tentang sunset..
Dia biasa saja..
Tapi bisa membuatmu jatuh cinta, dengan sangat sederhana

Ada hal yang disampaikan sunset bagi penikmatnya
Menurutmu apa?
keindahan?
mungkin iya, tapi ada yang lebih besar dari itu
Keihklasan
simpel yah?

Begini..
Ketika kamu mencintai sesuatu, namun kamu juga harus ikhlas melihatnya berlalu.
Iya, begitu.
Kamu siap?
Tentu tidak perlu menjawab ya atau tidak.
semua tergantung kamu..
Aku hanya memberi tahu.

Kamu tahu rasanya ketika ada banyak sekali kata yang ingin keluar, namun akhirnya kamu memilih untuk diam?

iya, begitu rasanya kira-kira..

Mungkin ada yang memilih dengan melupakan, atau ada juga yang mencoba dengan mengalihkan..
dan aku memilih untuk mengalihkannya dengan cara ini.
Menulis..

Semoga kamu bisa sedikit mengerti, bahwa manusia pasti membutuhkan ruangannya sendiri untuk sekedar berceloteh sana-sini tanpa harus didengar, membagi pengalaman dan perasaan tentunya.

Terima kasih sudah mampir
Maaf kalau caraku menjamu masih belum sesuai harapan.
Nanti, aku akan menulis lagi.
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com