In hale, Ex hale..

"Apa yang melewatkanku, tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku." -Ummar Bin Khatab

.

.

.

Apapun perasaan yang masih tertinggal di hati hari ini yang seharusnya bukan milikku dan hanya membuat sesak, sembuhlah.

:)



Selalu ada pembicaraan seru setiap hari. Setiap waktu. Dengan siapapun. Bahas apapun.
Tapi hanya sedikit yang bisa kita sebut deep talk.

Jika dulu biasa kulakukan dengan umi, sahabat atau adik, setelah menikah jelas partner deep talk-ku adalah suami.

Menikah itu seperti perjalanan, bisa menyenangkan, seru menegangkan, sesekali membosankan, selebihnya banyak penyesuaian.

Banyak orang bilang, 5 tahun pertama adalah yang tersulit. Aku sudah 6 tahun, apakah sudah lebih baik? Tapi yang jelas, kami bertumbuh.

Banyak hal yang bisa disepakati, asal mau komunikasi. Aku bersyukur didampingi ia yang bisa lebih banyak mendengar dan suka membahas hal ajaib yang paling garing sekalipun.

Perlukah deep talk? Oh jelas, karena akan banyak kesepakatan dan juga penyesuaian yang bisa terjalin baik karena pembicaraan yang matang. Seberapa sering? Kalau aku pribadi ya sesuai kebutuhan.

Mungkin itu sebab menikah adalah ibadah terpanjang waktunya. Karena memang ada misi jangka pendek dan misi jangka panjang, rencana dadakan bahkan kejadian tanpa rencana.

Seperti hari ini, Nata tiba-tiba demam sejak semalam, pagi bangun dan ternyata ada ruam merah di telapak tangan-kaki. Jadwalku hari pertama pesantren kilat sampai jam 10.00. Suami inisiatif untuk WFH tapi harus memandu rapat via zoom. Jam 10.00 aku jemput Nata untuk cek ke klinik, dan ternyata benar, ia terpapar 'flu singapur'. Oke, Nata gak bisa sekolah untuk beberapa hari ke depan dan memang akan libur juga. Besok, aku ada rapat di hotel daerah Tegallega. Lalu, siapa yang harus mengalah untuk stay di di rumah? Nah, di sini biasanya kami akan deep talk. 

Setidaknya itu cara kami untuk survive saling bergantung satu sama lain karena di kota ini, kami hanya berdua, tanpa keluarga lain. 

Satu hal yang pasti, apapun keputusan yang diambil, prinsip kami sama, "family first".

Ada banyak teka-teki dalam hidup yang ternyata memang tidak selalu butuh harus dijawab.

Dititipkan rasa hingga mewujud rupa pengharapan adalah bentuk konstelasi waktu yang merupakan 'apa-apa yang tidak bisa kita kendalikan' lainnya. Apalagi jika itu adalah masa lalu.

Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.

Ini adalah pernyataan Soedjiwo Tejo yang menurutku paling berbahaya. Aku tidak setuju pun tidak menyanggah jika hal seperti itu memang ada. Bisa terjadi. Dengan siapapun.

Banyak hal dalam mencerna perjalanan waktu yang telah dilalui untuk sampai di tahap cukup. Sebagaimana takdir dan waktu adalah sesuatu yang kita yakini ada Pemiliknya.

Jadi, membiasakan perasaan itu ada namun tak memaksa wujudnya harus nyata adalah bagian dari proses merelakan bagiku. Karena hal yang dianggap biasa tak akan menjadi istimewa pada akhirnya.

Sebagaimana anak laki-laki milik ibunya, dan anak perempuan adalah milik ayahnya.

Aku pernah membahas ini, dulu. Bagaimana aku merasa bahwa tidak ada laki-laki di dunia ini yang paling mencintaiku, lebih dari beliau. Tentunya sebelum aku menikah.

Bapak, begitu aku menyebutnya, adalah sosok ayah yang mungkin tidak pandai mengekspresikan perasaannya lewat kata-kata, namun lebih ke tindakan. 

Selama 25 tahun pengasuhannya, sama sekali aku belum pernah mendengar beliau marah membentak, apalagi memukul jika aku dan adik-adikku berulah. Yang akhirnya aku tahu alasannya setelah menikah, beliau senang bila aku mendengarkannya cerita atau curhat, itu adalah kebiasaanku dan bapak untuk duduk di teras rumah atau taman belakang yang sering kusengaja karena beliau sangat butuh teman berbincang. 

Malam itu bapak membuka obrolan, bapak bilang ia begitu bersyukur aku menikah dengan suamiku yang menurutnya sangat baik dan penyayang. Aku aminkan. "Waktu kamu nikah, bapak nangis karena antara berat dan lega melepas kamu. Seumur-umur bapak gak mau kasar ke anak, karena takut kamu nanti diperlakukan kasar juga sama suami kamu." :')

Deg, rasanya tenggorokan tercekat karena aku menahan nangis saat bapak bilang begitu. Ia begitu meyakini bahwa apa yang dilakukan oleh orang tua kepada anak hari ini, akan menjadi cermin bagi kehidupan anaknya kelak, dan aku sangat bersyukur karenanya.

Umi dan bapak mungkin bukan pasangan sempurna versiku, tapi sebagaimana tidak ada pasangan yang sempurna di dunia ini, mereka adalah panutanku sebagai pasangan yang saling melengkapi satu sama lain.

     Aksara yang tersusun dalam deret barisan menjelma menjadi sebuah tulisan bermakna yang membuatku merasa bebas berekspresi. Terkadang aksara menjelma menjadi ungkapan kegundahan, rasa tidak puas, buntu mencari jalan, atau bahkan sekedar coretan tak berarah. Aksara adalah panah, dan menuliskannya adalah busur yang menjadikannya tepat sasaran. Jadi, bisa kuanggap aksara adalah senjata bagiku.

    Bagimu, apa makna aksara dalam tulisanmu?

    Seperti yang aku tuliskan dalam minor heading blogku. "Tidak semua yang kutulis adalah tentangmu, dan tidak semua yang kamu baca adalah tentangku", terkadang aku akan sangat berisik jika memang itu belum selesai kusampaikan. Lebih seringnya, aku akan menulis hingga merasa bosan dengan apa yang sedang aku bahas. Setelah itu, mungkin tidak akan kamu temukan apapun lagi dalam tulisanku.

    Anggaplah aku sedang menyelami waktu rehabilitasiku, dan menulis membuatku merasa waras tanpa merasa ini candu yang membuatku tenggelam di dalamnya. 

    Aku lahir di Garut, mulai berpindah ke Jakarta saat usia 2 tahun (menurut cerita ibuku). Selama 14 tahun hidup nomaden dengan 2 kali berpindah rumah karena kami masih mengontrak. Roda hidup mungkin mulai berubah lebih baik saat ibuku akhirnya bekerja menjadi guru di sekolah swasta, tempatku juga dulu ikut sekolah di dalamnya, sebelum akhirnya diterima PNS tahun 2005. Sekitar tahun 2007, kami akhirnya bisa membangun rumah sendiri di lahan seluas 100 meter persegi dengan tukangnya adalah bapakku sendiri dibantu oleh 2 rekan tukang lainnya. Kebetulan memang beliau sehari-hari pun bekerja sebagai tukang kayu dan menurutku, bapak adalah orang yang multitalent karena serba bisa membuat dan merawat apapun.

    Singkat cerita, aku hidup 23 tahun di Depok-Jakarta. Karena meski rumah di Depok, namun dari SMP hingga kuliah aku habiskan di Jakarta. Sebagaimana mimpi anak-anak yang hidup di Jakarta, dengan segala kemudahan akses "apapun" dan gemerlap yang ditawarkan, jelas ketika aku kuliah di PGSD UNJ yang notabene kampusnya berada di segitiga emas ibu kota, yaitu Setiabudi-Sudirman-Kuningan, aku sudah memiliki mimpi untuk kelak bekerja di ibu kota sebagai PNS guru, atau paling tidak menjadi guru swasta di kalangan elite tersebut.

    Namun, idealisme yang terbangun selama kuliah, juga peranku yang terlalu aktif di organisasi sebagai wakil ketua BEMJ hingga beberapa kali merasakan turun aksi, membuatku sering bergejolak dalam hati untuk bisa memberi lebih tidak hanya lulus kuliah-bekerja. Berkumpul dengan teman-teman di BEM Fakultas dan juga kaka senior yang menjadi alumni SM3T angkatan 2 sebelumnya, membulatkan tekadku untuk ikut serta juga megukir pengabdian di pelosok negeri. Hingga akhirnya aku mantap mendaftar SM3T bahkan saat skripsiku belum selesai. Bu Maratun (yang kini sudah almh.) adalah dosen pembimbing sekaligus Kajur PGSDku, adalah orang pertama yang kuberitahu niatku lanjut SM3T setelah lulus dan beliau dukung penuh dengan membuka jalan agar aku bisa seminar proposal dan sidang skripsi lebih awal. Begitu juga dengan teman-teman lainnya yang ikut mendaftar. 

    Setelah mengikuti tahapan tes dan dinyatakan lulus SM3T, sidang skripsiku pun selesai. Tepat seminggu sebelum keberangkatan pembekalan, aku baru memberitahu ayah dan ibuku. Jelas mereka kaget dan marah karena aku tidak berdiskusi sama sekali sebelumnya. Umi nangis saat itu karena berpikir bagaimana kalau anak gadisnya ditempatkan di tengah hutan atau di daerah rawan konflik. Tapi justru aku sama sekali tidak ada perasaan khawatir apapun saat itu, dan itu yang membuat bapak yakin kalau aku bisa menjaga diri dengan baik. Akhirnya umi setuju. 

    Selama kurang lebih menjalani setahun di Pulau Semau, NTT (tempat penempatan SM3T-ku) ada beberapa momen yang aku menyadari betapa aku merindukan "rumah" dan memaknai "pulang" adalah hal yang paling ditunggu-tunggu. Bukan karena aku tidak betah, tapi seperti akhirnya sadar, bahwa aku selama ini kurang sedekat itu dengan keluargaku. Namun, ada satu pembahasan yang sangat aku ingat saat itu saat bercerita dengan umi di telpon. "Mi, ai pengen tinggal di Bandung deh nanti." Umi heran, karena saat itu, Bandung sama sekali tidak pernah ada di daftar pembahasan selama 15 tahun terakhir aku curhat apapun dengan beliau. 

Entahlah, memang ada beberapa hal yang terjadi selama masa setahunku di Kupang yang membuatku akhirnya memutuskan, aku juga ingin di Bandung, nanti.

    Konspirasi semesta begitu unik, hingga bagaimana caranya akhirnya aku ditempatkan PPG di UPI, Bandung. Aku selalu percaya, nasib baik apapun yang terjadi padaku, pasti ada campur tangan doa umi di dalamnya. Sampai saat ini. Sebelumnya, aku memang pernah "sengaja" ke Bandung setelah aku pulang SM3T, bersama teman sepenempatan dulu, untuk menghadiri acara seminar di UPI dan menginap semalam di rumah teman SM3T yang berdomisili di Cimahi. Bekeliling Bandung selama 2 hari membuatku semakin jatuh cinta dengan kota ini, jauh sebelum pengumuman PPG kuterima.

    Selama setahun PPG di UPI Bandung, jelas aku mengalami banyak pergolakan hati, antara menunggu atau memilih. Hingga saat kepulangan, teman-temanku yang lain mantap kembali pulang ke rumah dan kotanya masing-masing, sedangkan aku dengan sengaja menerima tawaran menjadi guru inval di sekolah swasta Bandung dengan harapan, aku masih menunggu. Keputusanku untuk memilih akhirnya tiba , namun keinginanku untuk tinggal di Bandung tetap sama. Hingga hari ini, aku sudah secara resmi menjadi warga Bandung dan masih terus membuat kenangan bersamanya. 

Terima kasih sudah membaca tulisanku di tahun 2020. :)

Mungkin seharusnya aku bisa sedikit menyapamu saat kutahu kamu sudah membacanya dari pesan tersirat beberapa waktu lalu. Tapi tentu kamu juga tahu alasan kenapa kita tidak bisa melakukannya lagi, bukan?

Jika dulu memang hampir setiap hari kita bisa saling berkabar, jelas berbeda keadaannya untuk sekarang.

Oiya, barangkali kubisa bertanya di sini secara monolog.

Jadi, bagaimana kabarmu hari ini?
Silahkan untuk menjawab apapun, tapi kuanggap kamu akan menjawab hatimu sudah jauh lebih baik saat ini. :)

Sekalipun kita berada di kota yang sama, butuh sejuta kemungkinan nantinya untuk bertemu kembali. Jadi biarkan tulisanku yang mewakilinya.

Seperti ungkapan lirik lagu dari Tulus, di antara kita kali ini hanya akan bisa saling menyampaikan "Hati-hati di jalan" untuk perjalanan kita masing-masing. :)
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com