Ada banyak teka-teki dalam hidup yang ternyata memang tidak selalu butuh harus dijawab.

Dititipkan rasa hingga mewujud rupa pengharapan adalah bentuk konstelasi waktu yang merupakan 'apa-apa yang tidak bisa kita kendalikan' lainnya. Apalagi jika itu adalah masa lalu.

Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.

Ini adalah pernyataan Soedjiwo Tejo yang menurutku paling berbahaya. Aku tidak setuju pun tidak menyanggah jika hal seperti itu memang ada. Bisa terjadi. Dengan siapapun.

Banyak hal dalam mencerna perjalanan waktu yang telah dilalui untuk sampai di tahap cukup. Sebagaimana takdir dan waktu adalah sesuatu yang kita yakini ada Pemiliknya.

Jadi, membiasakan perasaan itu ada namun tak memaksa wujudnya harus nyata adalah bagian dari proses merelakan bagiku. Karena hal yang dianggap biasa tak akan menjadi istimewa pada akhirnya.

Sebagaimana anak laki-laki milik ibunya, dan anak perempuan adalah milik ayahnya.

Aku pernah membahas ini, dulu. Bagaimana aku merasa bahwa tidak ada laki-laki di dunia ini yang paling mencintaiku, lebih dari beliau. Tentunya sebelum aku menikah.

Bapak, begitu aku menyebutnya, adalah sosok ayah yang mungkin tidak pandai mengekspresikan perasaannya lewat kata-kata, namun lebih ke tindakan. 

Selama 25 tahun pengasuhannya, sama sekali aku belum pernah mendengar beliau marah membentak, apalagi memukul jika aku dan adik-adikku berulah. Yang akhirnya aku tahu alasannya setelah menikah, beliau senang bila aku mendengarkannya cerita atau curhat, itu adalah kebiasaanku dan bapak untuk duduk di teras rumah atau taman belakang yang sering kusengaja karena beliau sangat butuh teman berbincang. 

Malam itu bapak membuka obrolan, bapak bilang ia begitu bersyukur aku menikah dengan suamiku yang menurutnya sangat baik dan penyayang. Aku aminkan. "Waktu kamu nikah, bapak nangis karena antara berat dan lega melepas kamu. Seumur-umur bapak gak mau kasar ke anak, karena takut kamu nanti diperlakukan kasar juga sama suami kamu." :')

Deg, rasanya tenggorokan tercekat karena aku menahan nangis saat bapak bilang begitu. Ia begitu meyakini bahwa apa yang dilakukan oleh orang tua kepada anak hari ini, akan menjadi cermin bagi kehidupan anaknya kelak, dan aku sangat bersyukur karenanya.

Umi dan bapak mungkin bukan pasangan sempurna versiku, tapi sebagaimana tidak ada pasangan yang sempurna di dunia ini, mereka adalah panutanku sebagai pasangan yang saling melengkapi satu sama lain.

     Aksara yang tersusun dalam deret barisan menjelma menjadi sebuah tulisan bermakna yang membuatku merasa bebas berekspresi. Terkadang aksara menjelma menjadi ungkapan kegundahan, rasa tidak puas, buntu mencari jalan, atau bahkan sekedar coretan tak berarah. Aksara adalah panah, dan menuliskannya adalah busur yang menjadikannya tepat sasaran. Jadi, bisa kuanggap aksara adalah senjata bagiku.

    Bagimu, apa makna aksara dalam tulisanmu?

    Seperti yang aku tuliskan dalam minor heading blogku. "Tidak semua yang kutulis adalah tentangmu, dan tidak semua yang kamu baca adalah tentangku", terkadang aku akan sangat berisik jika memang itu belum selesai kusampaikan. Lebih seringnya, aku akan menulis hingga merasa bosan dengan apa yang sedang aku bahas. Setelah itu, mungkin tidak akan kamu temukan apapun lagi dalam tulisanku.

    Anggaplah aku sedang menyelami waktu rehabilitasiku, dan menulis membuatku merasa waras tanpa merasa ini candu yang membuatku tenggelam di dalamnya. 

    Aku lahir di Garut, mulai berpindah ke Jakarta saat usia 2 tahun (menurut cerita ibuku). Selama 14 tahun hidup nomaden dengan 2 kali berpindah rumah karena kami masih mengontrak. Roda hidup mungkin mulai berubah lebih baik saat ibuku akhirnya bekerja menjadi guru di sekolah swasta, tempatku juga dulu ikut sekolah di dalamnya, sebelum akhirnya diterima PNS tahun 2005. Sekitar tahun 2007, kami akhirnya bisa membangun rumah sendiri di lahan seluas 100 meter persegi dengan tukangnya adalah bapakku sendiri dibantu oleh 2 rekan tukang lainnya. Kebetulan memang beliau sehari-hari pun bekerja sebagai tukang kayu dan menurutku, bapak adalah orang yang multitalent karena serba bisa membuat dan merawat apapun.

    Singkat cerita, aku hidup 23 tahun di Depok-Jakarta. Karena meski rumah di Depok, namun dari SMP hingga kuliah aku habiskan di Jakarta. Sebagaimana mimpi anak-anak yang hidup di Jakarta, dengan segala kemudahan akses "apapun" dan gemerlap yang ditawarkan, jelas ketika aku kuliah di PGSD UNJ yang notabene kampusnya berada di segitiga emas ibu kota, yaitu Setiabudi-Sudirman-Kuningan, aku sudah memiliki mimpi untuk kelak bekerja di ibu kota sebagai PNS guru, atau paling tidak menjadi guru swasta di kalangan elite tersebut.

    Namun, idealisme yang terbangun selama kuliah, juga peranku yang terlalu aktif di organisasi sebagai wakil ketua BEMJ hingga beberapa kali merasakan turun aksi, membuatku sering bergejolak dalam hati untuk bisa memberi lebih tidak hanya lulus kuliah-bekerja. Berkumpul dengan teman-teman di BEM Fakultas dan juga kaka senior yang menjadi alumni SM3T angkatan 2 sebelumnya, membulatkan tekadku untuk ikut serta juga megukir pengabdian di pelosok negeri. Hingga akhirnya aku mantap mendaftar SM3T bahkan saat skripsiku belum selesai. Bu Maratun (yang kini sudah almh.) adalah dosen pembimbing sekaligus Kajur PGSDku, adalah orang pertama yang kuberitahu niatku lanjut SM3T setelah lulus dan beliau dukung penuh dengan membuka jalan agar aku bisa seminar proposal dan sidang skripsi lebih awal. Begitu juga dengan teman-teman lainnya yang ikut mendaftar. 

    Setelah mengikuti tahapan tes dan dinyatakan lulus SM3T, sidang skripsiku pun selesai. Tepat seminggu sebelum keberangkatan pembekalan, aku baru memberitahu ayah dan ibuku. Jelas mereka kaget dan marah karena aku tidak berdiskusi sama sekali sebelumnya. Umi nangis saat itu karena berpikir bagaimana kalau anak gadisnya ditempatkan di tengah hutan atau di daerah rawan konflik. Tapi justru aku sama sekali tidak ada perasaan khawatir apapun saat itu, dan itu yang membuat bapak yakin kalau aku bisa menjaga diri dengan baik. Akhirnya umi setuju. 

    Selama kurang lebih menjalani setahun di Pulau Semau, NTT (tempat penempatan SM3T-ku) ada beberapa momen yang aku menyadari betapa aku merindukan "rumah" dan memaknai "pulang" adalah hal yang paling ditunggu-tunggu. Bukan karena aku tidak betah, tapi seperti akhirnya sadar, bahwa aku selama ini kurang sedekat itu dengan keluargaku. Namun, ada satu pembahasan yang sangat aku ingat saat itu saat bercerita dengan umi di telpon. "Mi, ai pengen tinggal di Bandung deh nanti." Umi heran, karena saat itu, Bandung sama sekali tidak pernah ada di daftar pembahasan selama 15 tahun terakhir aku curhat apapun dengan beliau. 

Entahlah, memang ada beberapa hal yang terjadi selama masa setahunku di Kupang yang membuatku akhirnya memutuskan, aku juga ingin di Bandung, nanti.

    Konspirasi semesta begitu unik, hingga bagaimana caranya akhirnya aku ditempatkan PPG di UPI, Bandung. Aku selalu percaya, nasib baik apapun yang terjadi padaku, pasti ada campur tangan doa umi di dalamnya. Sampai saat ini. Sebelumnya, aku memang pernah "sengaja" ke Bandung setelah aku pulang SM3T, bersama teman sepenempatan dulu, untuk menghadiri acara seminar di UPI dan menginap semalam di rumah teman SM3T yang berdomisili di Cimahi. Bekeliling Bandung selama 2 hari membuatku semakin jatuh cinta dengan kota ini, jauh sebelum pengumuman PPG kuterima.

    Selama setahun PPG di UPI Bandung, jelas aku mengalami banyak pergolakan hati, antara menunggu atau memilih. Hingga saat kepulangan, teman-temanku yang lain mantap kembali pulang ke rumah dan kotanya masing-masing, sedangkan aku dengan sengaja menerima tawaran menjadi guru inval di sekolah swasta Bandung dengan harapan, aku masih menunggu. Keputusanku untuk memilih akhirnya tiba , namun keinginanku untuk tinggal di Bandung tetap sama. Hingga hari ini, aku sudah secara resmi menjadi warga Bandung dan masih terus membuat kenangan bersamanya. 

Terima kasih sudah membaca tulisanku di tahun 2020. :)

Mungkin seharusnya aku bisa sedikit menyapamu saat kutahu kamu sudah membacanya dari pesan tersirat beberapa waktu lalu. Tapi tentu kamu juga tahu alasan kenapa kita tidak bisa melakukannya lagi, bukan?

Jika dulu memang hampir setiap hari kita bisa saling berkabar, jelas berbeda keadaannya untuk sekarang.

Oiya, barangkali kubisa bertanya di sini secara monolog.

Jadi, bagaimana kabarmu hari ini?
Silahkan untuk menjawab apapun, tapi kuanggap kamu akan menjawab hatimu sudah jauh lebih baik saat ini. :)

Sekalipun kita berada di kota yang sama, butuh sejuta kemungkinan nantinya untuk bertemu kembali. Jadi biarkan tulisanku yang mewakilinya.

Seperti ungkapan lirik lagu dari Tulus, di antara kita kali ini hanya akan bisa saling menyampaikan "Hati-hati di jalan" untuk perjalanan kita masing-masing. :)

    Sekitar 20 tahun lalu, saat usiaku masih di belasan tahun dan menggunakan seragam merah putih, masih kuingat apa saja pembahasan yang bisa aku obrolkan dengan teman-teman sebayaku. Soal PR sekolah, nilai ulangan naik turun, nanti jam istirahat mau jajan apa, kenapa si A gak mau duduk sebangku sama aku atau si B yang katanya suka dengan si C, dan bla bla bla hal remeh temeh lainnya, seakan dunia ya cukup hanya di kehidupan sekolah dan teman adalah segalanya.

    Lanjut saat memasuki seragam SMP, putih biru. Belum terlalu jauh pembahasan yang diobrolkan. Hanya saja, sudah mulai bertambah dengan cinta monyet yang menyenangkan ketika menyukai teman di kelas yang sama. Atau, melihat kaka kelas yang "ko, keren banget sih apalagi pas main basket!" Ya, dulu jaman SMP, rasanya tim basket sekolah itu udah paling populer dan pasti pemainnya cool banget.

    Masa putih abu-abu mungkin disebut masa paling gamang. Entah bagi sebagian orang yang lain, tapi bagiku begitu. Masa penentuan di saat rasanya menjadi  bagian organisasi itu penting sekali, dan pelajaran yang gurunya gak asik itu membosankan. Nilai naik turun malah hal yang biasa, apalagi kalau ternyata yang remedial bisa sampai seangkatan. Wow, mengesankan! Tapi mulai berubah menjadi kelabu saat ternyata di akhir semua terlihat sempurna bagi yang lain, dan menyedihkan bagiku yang tidak diterima di PTN manapun karena kupikir saat kelas 12, cukup hanya persiapan untuk UN saja. Ternyata aku kalah start, di saat yang lain sudah bimbel sana sini untuk persiapan masuk PTN favoritnya. Mungkin masa ini menjadi titik balik pertama dalam hidup, bahwa berpikir tidak lagi sama hanya cukup tentang sekolah dan rumah saja, namun estafet menuju masa depan.

    Secara sadar aku mulai mencari teman yang sefrekuensi, lebih tepatnya senasib. Pernah berpikir untuk melamar kerja di pabrik namun akhirnya aku ditampar oleh kenyataan, HRD menolak karena aku lulusan SMA favorit yang seharusnya saat itu sedang duduk di bangku kuliah, bukan menghadapi mesin besar yang ada di belakang ruang interview saat itu. Akhirnya pola pikir kembali disadarkan, bahwa tempatku memang bukan disana. Aku harus lanjut kuliah walaupun harus menunggu kesempatan di tahun depan.

    Banyak bertemu orang dengan berbagai latar belakang, membuatku sadar bahwa dunia memang luas. Pikiranku tidak bisa hanya cukup di zona nyaman yang aku ciptakan sendiri, karena hal yang membuat tidak nyaman yang justru membuka peluang. 

    Manusia berevolusi melalui pikirannya, cara pandang dan juga bagaimana ia menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Walau pembicaraan hangat dengan teman dekat tetap kita butuhkan untuk menjaga kewarasan dan jati diri bahwa "gue masih baik-baik aja dan gw tetap orang yang sama". Hanya untuk meyakinkan bahwa kita tidak benar-benar di luar kendali karena sengatan evolusi.

    Memasuki masa kuliah adalah masa paling settle sepertinya dari fase hidup. Bukan soal jurusan kuliah yang sesuai harapan, namun akhirnya hidup menjadi lebih terarah karena kita akan fokus di masa depan dalam bidang apa. Bukan soal nanti setelah kuliah kerja dimana, namun setelah kuliah punya skill apa untuk pegangan utama. Bertemu dengan teman-teman sevisi dan cara pandang yang sama menjadi bonus bahwa kita tidak sendirian. Membangun idealisme tentang menjadi masyarakat dan pengabdian pada negara seperti hal yang sangat digaungkan dan kita mengaminkan.

    Hari ini saat aku duduk sendirian makan di KFC, ternyata sendiri malah membuatku mendapatkan ide untuk menulis tentang hal ini. Dua gadis remaja yang kutaksir mereka masih kuliah sedang asyik berbincang di seberang kursiku, mungkin tentang kehidupan pribadi masing-masing atau lain sebagainya yang membuat mereka terlihat akrab satu sama lain. Ya, aku juga pernah ada di fase itu, rasanya pembicaraan tentang pencarian jodoh adalah hal paling favorit, ada juga cita-cita naik gunung atau liburan ke luar kota bersama, dan yang paling seru adalah hangout bareng di akhir pekan. Semua hal yang sepertinya baru dan rasa ingin mencobanya sangat tinggi karena merasa sudah mendapat predikat baru yaitu "mahasiswa" yang artinya sudah menjadi orang dewasa yang bebas. Mungkin ini yang menjadi dasar pertimbanganku untuk akhirnya berani ambil keputusan ikut program SM3T, mengajar di pedalaman selama 1 tahun yang bahkan kuingat tanpa memberitahu hal ini kepada kedua orang tuaku hingga sampai waktunya keberangkatan. Hahaha.

    Manusia memiliki masa evolusi yang jelas pasti berbeda. Aku sudah berevolusi selama 31 tahun sampai hari ini, dengan statusku saat ini sudah menikah, memiliki anak 1 dan sudah bekerja tetap sebagai PNS guru. Banyak orang berpikir bahwa hidup yang satu terlihat mulus jalannya dibandingkan yang lainnya. Pemikiran hari ini saat kutemui di kolom komentar media sosial, begitu banyak manusia yang memamerkan hidupnya yang baik-baik saja, sebetulnya tidak menjamin bahwa semulus itu perjalanan hidup mereka sampai di tahap tersebut. Semua pasti mengalami benturan evolusi yang berbeda-beda. Kita hari ini adalah hasil evolusi pemikiran apa yang sudah kita pilih untuk dilalui. Namun jelas, secara fitrah manusia tidak akan menunjukkan sisi lemahnya karena ia tidak akan mau untuk dikasihani. Lalu evolusi apa yang bisa dilalui oleh orang dengan usia yang sama denganku hari ini?

    Usia di masa krisis seperti saat ini adalah gerbang utama dimana kita sudah sadar bahwa jalan hidup yang akan ditempuh satu dan lainnya jelas pasti berbeda. Ada yang memutuskan menikah, ada yang ingin menikah namun belum menemukan jodohnya, dan ada pula yang secara mantap tidak akan menikah. Yang menikah belum tentu mau punya anak, dan yang sudah punya anak 1 bisa jadi sedang merencanakan menambah lagi momongan atau tidak. Yang sudah bekerja sedang banyak berpikir bagaimana menyelesaiakan pekerjaan di setiap harinya dengan baik, bahkan ada pula yang memutuskan untuk resign dan beralih pekerjaan atau usaha. Semua pilihan begitu terhampar jelas, dan isi pembicaraan kita juga akan jelas mengikuti arah mana yang akan kita pilih. Berdiskusi dengan banyak orang menjadi hal yang rumit, sehingga kita hanya butuh diri sendiri untuk bertahan. Ya, mungkin ini asalan utama kenapa banyak yang berpikir menjadi dewasa adalah hal yang paling melelahkan. Jadi, sudah sejauh apa evolusi hidupmu berjalan sampai hari ini?

Sebagian orang kehilangan, di sisi lain banyak yang untung dadakan. Hidup tidak sebercanda itu, kawan.

Aku sudah tidak tertarik menonton televisi sejak 4 tahun lalu. Entah karena sudah teralihkan dengan banyaknya suguhan entertainment lainnya yang kurasa jauh lebih menghibur dari sekedar berita kriminal pengulangan dan itu jenuh, atau rentetan judul sinetron yang sangat tertebak alurnya. Uhh basi!

Berita tak biasa yang akhirnya aku dengar adalah Covid19. Ya tentu bukan dari televisi aku menerima beritanya, melainkan mulut tetangga. Maret 2020 adalah posisiku masih tinggal di Desa Tugu dan kebiasaanku ngumpul di warung tetangga sambil mengasuh anak hingga sore suamiku kembali dari kantornya.

Benakku saat itu tentang virus tersebut, meremehkan. Aku berdiskusi ringan dengan suami yang notabene kerja di kantor pengembangan dan penelitian milik pemerintah. Jelas dia lebih update soal apapun yang berhubungan dengan keilmiahan. Tapi lucunya, diskusi kami malah ngelantur ke hal lain di luar nalar. "Gimana kalau pandemi ini bakal kayak zombie? dan kayaknya kita harus segera mengumpulkan persediaan makanan kalau-kalau keadaan makin genting!"

Tapi kurasa yang berpikir konyol semacam itu bukan hanya kami saja. Nyatanya, mendadak panic buying melanda seluruh dunia. Aku mulai aktif menyaksikan berita di televisi untuk melihat perkembangan dari wabah ini. Dan tagline berita yang saat itu aku baca, "Seorang lansia di Australia kehabisan tisue toilet setelah berjalan jauh dari rumahnya menuju toserba." What?? Segila itu ternyata manusia ketika dihadapkan dengan ancaman kematian. Tetapi aku sama saja, perasaan takut memang wajar ketika kita bingung harus bagaimana menghadapinya.

Nyatanya, wabah yang terlihat mengerikan ini, dengan berita kematian dimana-mana, sulitnya mendapat pasokan bahan pangan di beberapa negara, atau sanak keluarga yang terpisah jauh lintas dunia tak bisa kembali, masih ada yang jauh lebih mengerikan dari itu semua. KORUPSI!

Memang bukan hal baru di negara ini para tikus berdasi seperti berlomba-lomba memperkaya diri lewat jabatannya. Tapi di tengah pandemi masih mengambil celah untuk korupsi?! Sakit jiwa ini sih pasti!

Tidak cukup hanya korupsi untuk memenuhi rekeningnya pribadi, semua fasilitas, pelayanan kesehatan, akses keramaian hajatan saat PPKM, bahkan liburan gratis melihat pameran fashion di luar negeri seolah hidupnya paling raja. Tahan, tahan jangan keluar kata kasar lagi!

Kulihat berita di Instagram Tempodotco menjadi sering lewat di beranda karena aku rutin membacanya. Lebih menarik membaca komenan netizen yang banyaknya menghujat pemerintah, senggol sedikit untuk PNS yang dianggap sama saja makan gaji buta di saat mereka beradu nasib menceritakan PHK di tempat kerjanya dan dimana-mana. Hatiku sakit, tapi memang tidak bisa merasakan sakitnya berada di posisi mereka yang harus jungkir balik dengan keterbatasan.

Tetap rasanya ingin menyentil balik. 

Saya juga jengah ko Mba Mas, mau itu dengan pandemi yang gak beres-beres atau dengan pemerintah yang terlihat bermain-main dengan rakyatnya. Tapi bukan berarti yang hilang dari dirimu, lantas menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam agar dirimu puas. Kita sama-sama rakyat. Daripada saling menyudutkan dan tidak membawa perubahan, lebih baik saling merangkul, bukan? 

 

Malam ini adalah penghujung tahun 2021. Resolusi yang sama dengan tahun sebelumnya, bukan lagi hanya soal pencapaian diri, "semoga" kali ini adalah untuk warga di bumi. Aku, kamu dan kita yang masih bernapas dan membaca blog ini. Harapan belum mati. Sekali lagi angkat tangan menengadah semoga Tuhan membalikan tangannya lagi untuk 2022 yang lebih BERSIH dan lebih baik lagi.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com