Bisa jadi..

I just miss how I enchanted with you, in the past~ So now, it might be time for me to let it be as a memory.

Terima kasih sudah sempat hadir dan kembali menyapa dengan cara yang tak biasa, dengan segala teka-teki dan pencarian yang seolah menjadi titik untuk saling menemukan. 

Aku anggap, itu adalah cara semesta untuk membuka jalan bagiku mengurai pintalan kenangan yang seharusnya tidak aku simpan terlalu lama.

 "Sedekat apapun jaraknya, jika memang sudah selesai, tidak akan ada lagi pertemuan"

Ibarat menulis surat di perahu kertas, sepertinya ia sudah sampai di dermaga walau butuh waktu lebih lama, bahkan hampir saja tak bersisa karena tergerus waktu.

Namun, siapa sangka dia menemukan cara untuk ditemukan. 

Kadang ya, aku berpikir..apa mungkin ini bagian dari doaku 'dulu' untuk bisa sampai padanya 'nanti' seperti isi surat itu. Walau sebetulnya, lebih banyak rasa khawatir dari pada penasaran yang ingin tersampaikan kalau kutahu kejadiannya akan di masa kini.

Membuka kembali komunikasi, bahkan tidak ada sama sekali dalam prediksi.

Tapi sepertinya, banyak hal tidak bisa hanya sebuah kebetulan. Entah dengan tujuan apa, namun aku tahu, mungkin ini cara Tuhan menyampaikan bahwa magnet rasa itu ada.

Bisa jadi, dari mimpi yang berulang atau tak sengaja mengalami hal yang mengingatkan, magnet itu bekerja. Namun sekali lagi, tak segala hal harus mewujud rupa, bisa jadi cukup hanya dirasa saja.

Satu yang pasti, lebih dari cukup mengetahui kabarmu kini adalah hal yang disyukuri. Terima kasih sudah memberiku ruang untuk bisa jujur tempo hari. 

Kukira, kenangan adalah hal yang akan ikut tumbuh seiring berjalannya waktu. Ternyata tidak. 
Kenapa sih hal-hal kaya gini telat sadarnya?

Seperti halnya mainan yang kamu simpan dalam kotak-kotak berbagai ukuran. Kenangan juga begitu. Semua tertata rapih dalam kotak ingatan, tapi tidak selalu kamu buka kembali untuk dimainkan. 

Bisa jadi, kamu akan membeli mainan baru, dan yang sebelumnya kamu tinggalkan. Tidak benar-benar lupa, tapi saat kamu buka kembali ternyata bentuknya masih sama, sedangkan kamu sudah bertumbuh begitu dewasa.

Aku ingat teman-teman masa kecilku, sebagian perjalanan cintaku, dan hal-hal lain yang ternyata aku mengenalnya untuk saat itu, bukan saat ini. 

Ketika aku menemukannya di waktu saat ini, aku hanya mengingatnya di masa itu. Kenanganku berhenti di terakhir kali kami bertemu. 

Jadi, kenapa orang dewasa sering mengatakan "loh, ko kamu udh besar ya, perasaan pertama ketemu masih bayi loh", itu bukan hanya basa basi, melainkan ia sedang membuka salah satu kotak ingatannya yang menjadi kenangan.

Aku tidak tahu, apakah seseorang yang kutemui terakhir kali dan kusimpan banyak kenangannya itu masih orang yang sama atau tidak, karena kami bertumbuh, namun kenangan tidak.

.

People change, come and go~

Memori bisa menetap dalam berbagai bentuk, bisa rupa, bisa juga rasa.

Kali ini, aku mau membahas tentang memori yang seketika hidup kembali dalam bentuk rasa, bukan hanya soal hati ya, tapi ini tentang makanan.

Pasti setiap kita akan punya cerita dibalik beberapa makanan yang akhirnya menjadi "favorit" atau sebaliknya.

Aku hanya akan mulai dengan makanan yang memberikan kesan mendalam, tidak selalu favorit tapi setiap kali aku makan, semua kenangan itu hidup kembali.

1. Opor ayam

Iya, opor ayam dengan kuah santan kuning (versiku). Kenapa ini berkesan? Bukan dari hasil masakan ibuku, tapi masakan ibu temanku. Dulu, waktu SD saat ekonomi keluargaku sangat di bawah, aku punya teman sekelas asli Padang, rumahnya dekat dengan rumahku, sama2 ngontrak, juga sama2 terbatas ekonominya, punya 3 orang adik laki2. Hampir setiap hari, uminya (kupanggil umi juga) selalu masak opor ayam, yang kutahu sudah dijatah jumlah dagingnya untuk sekeluarga. Namun, setiap kali aku main dan masuk jam makan siang, uminya selalu menyuruh aku ikut makan bersama. Sebuah kemewahan saat itu untuk bisa makan opor ayam, sedangkan di rumah, ibuku bahkan tidak masak. Entahlah, rasa opor ayamnya benar2 membekas sampai sekarang, yang walaupun aku bisa masak sendiri, tetap belum bisa sama persis dengan yang beliau buat. Semoga Allah selalu menjaga mereka sekeluarga, karena aku tak tahu keberadaannya sekarang.

2. Dunkin Donut

Walaupun saat ini jadi produk boikot, tapi sejujurnya aku punya kenangan sangat manis dengan kudapan satu ini. Dulu, setiap kali bapak selesai mengerjakan orderan lemari, yang artinya beliau pulang membawa uang, oleh-oleh yang selalu dibawa adalah donat merk ini. Dengan hampir seluruh isiannya adalah donat filling selai buah, favoritku strawberry dan durian. Saat itu, baru hanya ada aku dan adikku si anak kedua. Kita pasti berebut dan dalam sehari donat selusin itu pasti habisss..

3. Mie Ayam 

Harus kusebutkan lengkapnya, mie ayam Mas Eko. Hahaha. Kenapa dengan mie ayam Mas Eko? Jadi, waktu aku SD ini adalah mie ayam pertama yang aku coba. Harganya masih seribu rupiah semangkuknya. Bayangkan inflasinya harga rupiah dibandingkan dengan sekarang. Entahlah, mie ayamnya punya aroma khas yang enak bangettt, bahkan aku bisa menciumnya dari jarak cukup jauh. Hahaha, saking sukanya kayanya hampir tiap hari saat jam istirahat aku pasti beli. Sampai-sampai, pernah suatu ketika ada acara kenaikan kelas dan disebutkan juara kelasnya, namaku disebut dengan embel-embel "anak ini doyan banget makan mie ayam" oleh guruku, dan semua orang langsung tahu itu aku. Bahkan sampai Mas Eko pun notice dan setelahnya memberikan semangkuk mie ayam gratis sebagai hadiah. Sayangnya Mas Eko pindah saat aku lulus SD, ada yang bilang beliau kembali ke kampung halamannya dan tak pernah kembali lagi.

4. Yamien 88 Cijantung

Salah satu kedai mie yamien yang cukup tersohor saat aku SMA. Karena memang banyak cabangnya yang juga dekat dengan sekolahku di Cijantung, Jakarta Timur. Bahkan katanya ownernya adalah keluarga salah satu kakak kelasku. Dulu harga semangkuknya Rp 4.500,- jadi dengan lima ribu aku bisa beli semangkuk plus aqua gelas. Uang jajanku saat SMA juga sangat terbatas karena lagi-lagi ekonomi keluarga sedang sulit, sedangkan jarak sekolahku dengan rumah cukup jauh. Butuh 2 kali naik angkot dan 1 omprengan untuk ke sekolah yang berada di wilayah komplek kopassus tsb. Jadi, jika dipotong ongkos, uang jajanku sekitar tujuh ribuan, dan kalau mau ke yamien bareng teman2, kita sering memutuskan jalan kaki, apalagi jika habis latihan Paskibra, pasti ramai yang bergabung. Rasa khas yamien inituh manis, pedas, asam. Ala-ala 'misdaseum' lah ya. Tapi entah kenapa, walaupun sampai sekarang rasanya masih sama, namun peminatnya sudah jauh berkurang. Setiap kali aku sengaja mampir, tidak seramai dulu yang sampai waiting list. Ya, mungkin karena selera orang berubah ya. Kalau sekarang, harga semangkuknya sekitar 18rb-23rb. Tetap worth it menurutku.

5. The last but not least, Soto Mba Yanti

Kayaknya kalau aku mampir lagi ke kampusku di Setiabudhi, semoga beliau masih jualan. Dulu jaman kuliah, karena aku ngekost, ini adalah makanan favorit yang bahkan bisa aku makan 2x untuk siang dan malam. Hahaha, enak bangetttt apalagi soto cekernya. Pernah sampai aku kena alergi gara-gara abis makan soto ceker, tapi begitu sembuh lanjut makan lagi. Beliau sampai hafal dengan kebiasaanku makan, berapa sendok sambel, dan selalu kasih lebihan ayam atau tulang. Terakhir kembali ke sana untuk makan, saat Nata usia 3 tahunan, dan beliau masih tetap ingat aku. Sehat-sehat ya Mba Yanti..

.

Sebetulnya masih ada banyak lagi makanan dengan kenangan di dalamnya. Kenapa tidak ada masakan ibuku? Ya karena kalau itu jelas semuanya enaakk. 😆 

Bagaimana dengan mie aceh? sudah dibahas tersendiri jauh sebelumnya ya.

Pernah mendengar istilah itu?
Bisa jadi ada kehidupan lain dengan kita sebagai tokohnya namun berbeda keadaan dan waktu.

 Tidak ada kalimat yang lebih cocok untuk menggambarkan proses menjadi dewasa, selain "Menjadi dewasa itu sulit, bahkan sebagai wanita yang sudah menjadi ibu pun, aku tetap butuh ibu dan tetap ingin menjadi seorang anak."

"Students who are loved at home, come to school to learn. And students who aren't, come to school to be loved."

Rasanya setiap mengulang tahun ajaran, entah mengajar di kelas yang sama atau pindah kelas beda tingkat, selalu terasa "baru" menjadi guru. Tentu, faktor aku yang masih harus banyak belajar juga sebagai salah satu syaratnya. 

Pernah ada di titik jenuh untuk bisa memahami orang lain, baik itu siswa ataupun diri kita sebagai pendidik. Inginnya bisa membuat pembelajaran ideal, tapi ternyata kita sadar bahwa menjadi guru tetaplah manusia dengan segala keterbatasannya. 

Beberapa kali lihat studi kasus yang terjadi di dunia pendidikan saat ini, ada case dalam sudut pandang orang tua yang merasa kecewa dengan kebijakan sekolah, siswa yang mengalami degradasi moral, guru yang mengeluhkan kurikukulum beserta administrasinya. Padahal sebetulnya ada benang merah yang menghubungkan. 

"Kita tidak benar-benar merdeka dalam menikmati pendidikan"

Demi kenangan yang tidak pernah dibuat-buat, ataupun cerita pagi hingga malam yang tidak pernah berujung. Jika memang rindu masih saja tak berkesudahan, mungkin bukan temu atau sapa yang diharapkan, melainkan lupa..

Atau masyarakat lebih sering menyebutnya "baby blues".

Dulu, saat aku hamil dengan segala drama pendarahan yang berujung harus full bedrest dan melakukan chek up USG per-2 minggu sekali rutin selama 9 bulan, aku berusaha tetap enjoy walau rasanya stress luar biasa tiap bangun tidur flek pendarahan tak pernah berhenti.

Dokter Widya, yang menjadi Obgynku selalu memberikan perhatian lebih dan meyakinkanku kalau bayiku sehat dan aku harus bahagia, walaupun tau kondisi kehamilanku yg saat itu juga ternyata previa minor.

Aku menanti kehadiran bayiku lahir, sama sekali tidak peduli mau normal atau SC, karena sudah kupertimbangkan segala resiko yang mungkin aku terima jika tetap ngotot mau normal.

Ketika akhirnya aku menjalani SC dan melihat bayiku pertama kali, entah kenapa aku limbung. Rasanya aneh aku sudah punya anak dan harus memastikan dia diperhatikan.

3 hari pasca lahir dan kembali ke rumah, ternyata tidak mudah membangun bonding itu. Kupikir bonding ibu dan anak akan otomatis ketika keduanya sudah bertemu, ternyata yang aku rasakan adalah aku seperti tidak mengenalnya. Bayi kecil yang selama 9 bulan ada di rahimku itu.

Hal paling berat yang aku dan bayiku lalui saat itu adalah saat pemberian ASI. Aku mencoba sebisaku dan meyakinkan diri kalau aku mampu tapi bayiku tetap menangis sepanjang malam. Bapak dan umi sampai akhirnya harus menggedor pintu rumah tetangga untuk minta sufor karena dari awal walau aku tahu ASI ku masih belum cukup, aku kekeuh tidak mau sediakan sufor. Tapi malam itu, pertahananku runtuh. Ya, di usia awal hidupnya, Nata adalah bayi sufor.

Segala upaya tetap diusahakan oleh umi, dari buatkan aku sayur katuk setiap hari, rerebusan labu, godok jamu, minum pelancar ASI. Nihil.

Aku mulai merasakan depresi itu, di rumah orangtuaku, aku sering sendirian karena semua orang sibuk dengan aktivitas hariannya. Bersyukur umi bukan tipe ibu yang kolot, beliau sengaja meminta tolong salah satu tetangga untuk menemaniku dan mengurus bayiku di rumah saat siang. 

Aku mulai masa bodo dengan anakku.

Bahkan saat malam dan bayiku menangis, umi yang berjaga menggendong dan memberikan susu setiap 2 jam sekali. Sedangkan aku?
Lebih banyak melamun dan tidur..
Umi sama sekali tidak pernah menegurku atau memojokkan aku yang bersikap seperti itu. Ia tahu, aku sedang tidak baik-baik saja. Terlebih saat melihat aku pernah menjatuhkan bayiku ke kasur dengan sengaja karena ia tidak berhenti menangis dan aku benar-benar kesal. Sejak saat itu, umi langsung ambil alih semua pengurusan bayiku. Beliau tidak marah, hanya sambil usap2 wajah dan rambutku sambil merapalkan doa.

Suamiku datang ke Depok, hampir setiap akhir pekan. Jumat datang - Minggu kembali lagi ke Bandung. Setiap ia datang, lebih seringnya aku menangis karena aku merasa capek. Bukan capek fisik, lebih ke capek pikiran dan hati. Suamiku pun sadar aku sedang tidak baik-baik saja.

Tepat 4 bulan usia Nata, akhirnya aku kembali ke Bandung. Umi menemaniku selama 3 hari untuk memastikan aku siap untuk ditinggal. Bersyukurnya, aku pindah ke kontrakan di kampung yang warganya ternyata sungguh baik luar biasa. Selama awal pindah, umi yang mengajakku keliling dan menyapa warga. Hingga aku bertemu dengan para ibu muda lain yang juga memiliki bayi seumuran Nata. Perlahan, aku sering menghabiskan waktu bersama mereka karena saat itu aku full IRT. Dan Qadarullah, ASI-ku yang sempat kering perlahan mulai banyak dan Nata beralih ke ASI dbf hingga usianya 18 bulan saat itu dan kembali lagi ke sufor saat aku mulai bekerja.
Akhirnya baru kutahu, kalau ternyata yang aku butuhkan adalah menjadi ibu yang lebih "santai", lebih banyak didengar dan tertawa.

Satu hal yang aku pelajari, bahwa PPD tidak hanya stress yang ditimbulkan dari pihak luar, dari diri sendiripun sangat besar pengaruhnya. Menjadi ibu, tidak harus selalu sempurna dan segala hal harus berjalan sesuai harapan. Pada kenyataannya, kitalah yang dituntut untuk belajar ikhlas menerima keadaan.

Aku sadar aku bukan ibu yang sempurna, tapi justru anak dan suamiku lah yang selalu mendukung dan menjadikanku ibu yang selalu penuh syukur dan bahagia.
Terima kasih aku, untuk 32 tahun yg luar biasa ini.
Sudah sejauh ini berdiri dan melangkah membawa beban yang untuk diri sendiri cukup berat, tapi berhasil diangkat, diseret bahkan tak jarang dibawa berlari sambil terseok-seok.
Kita kuat.

Untuk tahun-tahun berikutnya yang semoga masih cukup panjang, aku yakin kita siap.
InsyaAllah..

Biar rasa sedih, diabaikan, dianggap terlalu mandiri, soliter, dan hal lain yg seperti memuji tapi menguji, tidak akan menjatuhkan pun menggoyahkan kita. Aamiin.

Satu hal yang kita yakini, perasaan sepi dan kesendirian ini nantinya akan menjadi hal yang biasa. 
Juga selalu merasa cukup dengan kalimat penguatan untuk diri sendiri "Semoga Allah jaga".


Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

                     Sapardi Djoko Damono, 1989 

Bandung, 06 Juni 2023 (17:02)

Hari ini kembali diguyur hujan setelah sempat beberapa minggu mendapat serangan panas yang cukup menyengat kota.

Tapi hujan ini tetap patut disyukuri karena setidaknya, aku lebih menyukai bau tanah yang basah dibandingan dengan debu jalanan dan juga gerutu panas saat menunggu di lampu merah.

Dan buatku, hujan di Bulan Juni selalu terasa istimewa, entah hujannya atau rindunya.


Semoga tulisanku, tak membuka luka hatimu.
.
Semoga tulisanku, hanya sebatas penghiburan dari rasa penasaran akan masa lalu.
.
Karena saat menulis tentangmu dulu, akupun begitu. Menerjemahkan rasa yang tertinggal yang seharusnya tidak untuk aku simpan.
.
Membiasakan bahwa rasa penasaran tidak selalu harus menemukan jawaban.
.
Hampir berharap, semoga tulisan itu tidak pernah ditemukan. Biar menjadi sebuah catatan saja. Bahwa aku pernah menyimpan rasa itu secara diam-diam.
.
Namun, seperti seorang pencari jejak, kamu berhasil menemukannya. Entah apa yang menuntunmu menemukannya. Ku harap itu tak akan berarti apa-apa bagimu saat ini.
.
Semoga. Akupun begitu.

 Hmm..

.

.

Hening

.

Mencerna kata butuh kemampuan.

.

Membaca sandi butuh keahlian.

.

Mencari jejak pun butuh ada 'jejak' itu sendiri.

.

Menjawab teka teki?

Seperti sedang bermain tebak kata kali ya..

Tapiii..

Aku tahu tidak akan pernah ada jawaban.

Ketika memutuskan untuk berkomitmen melalui akad, kita tidak sedang membuat ikatan dengan manusia, tapi dengan Rabbnya.
.
Dulu saat masih single, pernah berpikir. "Apa yang paling membedakan menjalin hubungan saat sebelum dan sesudah menikah?"
Bahkan saat awal menikah, rasanya masih belum sepenuhnya menerima keadaan yang dianggap 'berbeda'.
.
"Nanti kalau sudah menikah, harus yakin untuk menjaga perasaan." Itu pesan umi.
Rasanya saat itu mendengar pesan tsb sepele saja, tapi kini kutahu maknanya.
.
Obrolan bersama orang-orang yang sudah menikah pun juga terasa sekali bedanya. Banyak kisah yang dibaca ataupun didengar tentang hiruk pikuk atau juga hingar bingar jungkir balik pernikahan, beragam.
.
Tak sedikit hati dan jalan pikiran menjadi mudah sekali menilai, tapi juga mewanti diri untuk tidak gegabah menganggap kisah orang lain tidak akan terjadi pada diri sendiri. Ya, setidaknya kita ikut mendoakan ada jalan terbaik sekaligus membentengi diri semoga Allah selalu jaga.
.
Setiap badai, ada masanya ia akan berhenti. Begitu juga dengan yang ada di hati.

Rasanya cukup realistis untuk mengatakan, "Sehebat apapun perasaan di masa lalu, pada akhirnya tidak akan berarti apa-apa saat ini."

"Sehebat apapun godaan saat ini, yang paling utama kita tahu arah kemana kita harus kembali."

Scroll, refresh, searching..

Sedang mencari apa?

Klik, cek, kosong..

Sedang menunggu siapa?

Lihat lagi, cek lagi, nonton lagi..

Jenuh~

Tutup sudah, buka lagi..

Kalau pun ada, terus mau apa?

Kalau tidak ada, terus mau cari ke mana?

Dasar aku.

Sedalam apa ingatan yang tersimpan di kotak pandora yang bahkan pemiliknya saja tidak bisa menerka?

Anehnya kita bisa mengingat detail suatu peristiwa 7 tahun lalu, tapi bisa lupa apa yang terjadi 3 bulan atau bahkan minggu kemarin.

Tiap sel otak yang dirancang sebegitu kompleksnya, yang pernah kubaca katanya ia bisa menyimpan memori dari jutaan buku yang telah dibaca, tapi ternyata bisa luput dengan kata "lupa".

Ternyata harus ada "kesan" yang melibatkan hati dan rasa untuk bisa menguatkan ingatan, benar?

Jadi aku cukup sebal karena sempat banyak melibatkan itu semua untuk kenangan yang seharusnya tidak menetap lama.

*some text missing*

Jangan ditambahkan lagi, karena semoga sisanya adalah apa yang sudah berhasil aku lupa.


Apa yang kamu ingat tentang tanah kelahiran?
Ia seperti tanah yang mengikat kemanapun kakimu sudah jauh melangkah, namun kamu akan kembali merindukannya.
Seperti sihir yang menjelma menjadi rindu yang dalam tentang segala kenangan yang pernah bahkan mungkin hanya ada dalam ingatan samar tentang bagaimana kamu hidup pertama kali di sana.
Tentang orang-orang yang seperti semua ikut merayakan langkah kecil pertamamu menginjakkan kaki di atasnya.
Mereka akan ikut mengarakmu kemanapun kakimu melangkah dengan senyum sederhana namun tulus adanya.
Tentang gemericik aliran air dari gunung di selokan depan rumah yang terus menyambung ke sela-sela aliran sawah di bawahnya.
Tentang udara yang kamu hirup setiap saat dengan wangi khas kayu bakar atau aronan nasi yang bercampur satu di sekitarnya.
Atau gunung itu?
Yang selalu tegak berdiri di belakang rumah setiap kali kamu membuka jendelanya.
Beberapa hal mungkin sudah berubah, tapi ingatan dan kenangannya tetap selalu ada dan kamu yakini ia tetap sama.
Beberapa orang mungkin kini sudah tiada, namun kehadirannya yang pernah ada di hidupmu akan tetap hidup selamanya.



Bagiku, menyukai Garut lebih kuat dari pada tempatku dibesarkan lainnya. Seperti hari ini.
Bagaimana denganmu?
Jika mencari dodol favoritku, kurekomendasikan dodol kacang merah juaranya. :)

 In hale, Ex hale..

"Apa yang melewatkanku, tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku." -Ummar Bin Khatab

.

.

.

Apapun perasaan yang masih tertinggal di hati hari ini yang seharusnya bukan milikku dan hanya membuat sesak, sembuhlah.

:)



Selalu ada pembicaraan seru setiap hari. Setiap waktu. Dengan siapapun. Bahas apapun.
Tapi hanya sedikit yang bisa kita sebut deep talk.

Jika dulu biasa kulakukan dengan umi, sahabat atau adik, setelah menikah jelas partner deep talk-ku adalah suami.

Menikah itu seperti perjalanan, bisa menyenangkan, seru menegangkan, sesekali membosankan, selebihnya banyak penyesuaian.

Banyak orang bilang, 5 tahun pertama adalah yang tersulit. Aku sudah 6 tahun, apakah sudah lebih baik? Tapi yang jelas, kami bertumbuh.

Banyak hal yang bisa disepakati, asal mau komunikasi. Aku bersyukur didampingi ia yang bisa lebih banyak mendengar dan suka membahas hal ajaib yang paling garing sekalipun.

Perlukah deep talk? Oh jelas, karena akan banyak kesepakatan dan juga penyesuaian yang bisa terjalin baik karena pembicaraan yang matang. Seberapa sering? Kalau aku pribadi ya sesuai kebutuhan.

Mungkin itu sebab menikah adalah ibadah terpanjang waktunya. Karena memang ada misi jangka pendek dan misi jangka panjang, rencana dadakan bahkan kejadian tanpa rencana.

Seperti hari ini, Nata tiba-tiba demam sejak semalam, pagi bangun dan ternyata ada ruam merah di telapak tangan-kaki. Jadwalku hari pertama pesantren kilat sampai jam 10.00. Suami inisiatif untuk WFH tapi harus memandu rapat via zoom. Jam 10.00 aku jemput Nata untuk cek ke klinik, dan ternyata benar, ia terpapar 'flu singapur'. Oke, Nata gak bisa sekolah untuk beberapa hari ke depan dan memang akan libur juga. Besok, aku ada rapat di hotel daerah Tegallega. Lalu, siapa yang harus mengalah untuk stay di di rumah? Nah, di sini biasanya kami akan deep talk. 

Setidaknya itu cara kami untuk survive saling bergantung satu sama lain karena di kota ini, kami hanya berdua, tanpa keluarga lain. 

Satu hal yang pasti, apapun keputusan yang diambil, prinsip kami sama, "family first".

Ada banyak teka-teki dalam hidup yang ternyata memang tidak selalu butuh harus dijawab.

Dititipkan rasa hingga mewujud rupa pengharapan adalah bentuk konstelasi waktu yang merupakan 'apa-apa yang tidak bisa kita kendalikan' lainnya. Apalagi jika itu adalah masa lalu.

Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.

Ini adalah pernyataan Soedjiwo Tejo yang menurutku paling berbahaya. Aku tidak setuju pun tidak menyanggah jika hal seperti itu memang ada. Bisa terjadi. Dengan siapapun.

Banyak hal dalam mencerna perjalanan waktu yang telah dilalui untuk sampai di tahap cukup. Sebagaimana takdir dan waktu adalah sesuatu yang kita yakini ada Pemiliknya.

Jadi, membiasakan perasaan itu ada namun tak memaksa wujudnya harus nyata adalah bagian dari proses merelakan bagiku. Karena hal yang dianggap biasa tak akan menjadi istimewa pada akhirnya.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com